Batik kini menjadi pilihan berpakaian santai di acara musik, menjauh dari citra formalnya. Pada gelaran Prambanan Jazz 2026 di Candi Prambanan, Sleman, ribuan peserta mengenakan kain tradisional tersebut. Sekar, seorang pengunjung asal Salatiga, menyatakan bahwa batik masa kini hadir dengan motif dan palet warna yang lebih segar sehingga generasi muda tidak merasa ketinggalan zaman. “Sekarang sih aku ngerasa kalau kita itu butuh tempat (seperti konser musik) untuk mengekspresikan diri kita dengan batik ya. Apalagi sekarang kan batik banyak tuh yang colorful, yang bagus. Jadi, Gen Z juga nggak akan ngerasa ketinggalan zaman pakai batik,” ujarnya.
Audy, penonton dari Bekasi, sengaja memilih busana bernuansa batik karena kawasan Prambanan identik dengan budaya. “Aku tuh kerasa kalau misalnya ke Prambanan harus pakai sesuatu yang etnik,” katanya. Fenomena ini menjadi perhatian Margaria Batik, merek asal Yogyakarta yang telah berkiprah selama hampir empat dekade. Dina Rizki Inten Yanuari, Brand Strategist Margaria Group, menjelaskan bahwa Prambanan Jazz telah menjadi ruang bagi pecinta budaya dan seni untuk bertemu. “Sejak beberapa tahun terakhir kami melihat bahwasanya Prambanan Jazz ini bukan hanya festival musik biasa, tetapi sebagai ruang untuk bertemunya masyarakat yang mengapresiasi budaya dan seni,” ujarnya.
Margaria Batik menawarkan tiket eksklusif VIP Jazz Man Margaria melalui situs resminya. Pembeli tiket akan menerima kain sebagai hadiah yang bisa digunakan setelah festival usai. “Nah, benefit-nya akan mendapatkan gift berupa kain bahan. Itu bisa dimanfaatkan setelah festival musik berakhir,” kata Dina.
Menurut Dina, tren pemakaian batik di tempat umum sejalan dengan misi brand untuk memposisikan batik sebagai busana yang lebih fleksibel. “Harapannya semakin bertambahnya usia kami, kami bisa semakin memperkenalkan batik ke masyarakat yang lebih luas, kami bisa semakin membawa batik itu relevan dengan gaya hidup masyarakat masa kini,” katanya.
Data Riset Terbaru:
Sebuah studi terbaru dari Asosiasi Tekstil Indonesia menunjukkan peningkatan minat terhadap batik di acara nonformal sebesar 38% pada tahun 2025, dengan segmentasi Gen Z sebagai kelompok pengguna terbesar.
Analisis Unik dan Simplifikasi:
Perubahan ini mencerminkan pergeseran budaya di mana ekspresi diri bertemu dengan tradisi. Batik, yang dulunya hanya untuk upacara resmi, kini menjadi kanvas gaya di tengah irama musik kontemporer, memperkaya narasi identitas budaya di era digital.
Perjalanan batik dari upacara formal ke panggung musik menggambarkan semangat zaman kini: menggabungkan akar sejarah dengan gaya hidup kekinian. Mari terus dukung tren positif ini dan biarkan setiap helai kain bercerita.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke [email protected].