Kunjungan PM Modi ke Indonesia, Sawit Tetap Menjadi Andalan Ekspor, Perdagangan Bilateral Menurun

By Jurnalis Berita

๐ŸŒ Translate this article:

Media Kampung melaporkan bahwa pertemuan Perdana Menteri India Narendra Modi dengan Presiden Prabowo Subianto di Indonesia menandai peluang strategis untuk memperdalam kerja sama ekonomi. Setelah perlambatan akhirโ€‘akhir ini, hubungan dagang diharapkan pulih, dengan minyak sawit tetap menjadi ekspor utama Indonesia.

Data dari Rubix Data Sciences menunjukkan bahwa perdagangan barang bilateral turun dari $38,8โ€ฏmiliar pada FYโ€ฏ2023 menjadi $24,8โ€ฏmiliar pada FYโ€ฏ2026, penurunan rataโ€‘rata tahunan (CAGR) sebesar 14โ€ฏ%. Indonesia tetap menjadi mitra dagang terbesar kedua India di ASEAN, di belakang Singapura yang mencatat perdagangan senilai $36,1โ€ฏmiliar.

Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan tajam ekspor India ke Indonesia, yang anjlok dari $10โ€ฏmiliar menjadi $4,5โ€ฏmiliar dalam periode yang sama, dengan tingkat penurunan tahunan sebesar โ€“23โ€ฏ%. Sementara itu, impor India dari Indonesia turun lebih moderat, dari $28,8โ€ฏmiliar menjadi $20,3โ€ฏmiliar.

Defisit perdagangan India terhadap Indonesia menunjukkan perbaikan. Selisih perdagangan menyempit dari $18,8โ€ฏmiliar menjadi $15,8โ€ฏmiliar, sementara Indonesia mempertahankan surplus perdagangan yang besar.

Komposisi ekspor India ke Indonesia mengalami pergeseran signifikan. Ekspor minyak bumi olahan, yang dulunya mendominasi, anjlok dari pangsa pasar 39โ€ฏ% menjadi hanya 5โ€ฏ% antara FYโ€ฏ2023 dan FYโ€ฏ2026. Sejumlah komoditas lain mulai mengambil peran lebih besar, di antaranya daging sapi beku, komponen otomotif, kacang tanah, dan tembakau mentah.

Sebaliknya, impor India dari Indonesia tetap berfokus pada komoditas strategis. Batu bara menjadi produk terbesar dengan porsi sekitar 30โ€ฏ%, disusul minyak sawit yang menyumbang 19โ€ฏ% dari total impor India dari Indonesia pada FYโ€ฏ2026. Bagi India, minyak sawit merupakan bahan baku penting bagi industri fastโ€‘moving consumer goods (FMCG) yang memproduksi makanan olahan, produk rumah tangga, hingga kosmetik.

Rubix Data Sciences mencatat bahwa Indonesia masih menjadi pemasok minyak sawit terbesar bagi India, dengan pangsa sekitar 40โ€ฏ% dari total impor sawit India pada FYโ€ฏ2026. Dominasi ini menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati negara dengan populasi terbesar di dunia.

Selain sawit, impor India dari Indonesia juga mulai menunjukkan pertumbuhan pada sejumlah komoditas baru, seperti baja nirkarat (stainless steel), asam lemak industri, serta semikonduktor yang secara bertahap memperluas struktur perdagangan kedua negara.

Kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia dirancang untuk memperkuat hubungan diplomatik dan membuka peluang peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi, terutama dengan menjaga aliran minyak sawit Indonesia yang stabil ke pasar India, yang merupakan salah satu tujuan ekspor terbesar nasional.

Penelitian terkini dari Rubix Data Sciences (2024) memprediksi pemulihan perdagangan, dengan proyeksi CAGR sebesar 8โ€ฏ% untuk perdagangan Indonesiaโ€‘India selama lima tahun ke depan, didorong oleh permintaan yang meningkat akan bahan baku energi terbarukan dan perluasan ekspor agri seperti minyak sawit, baja tahan karat, dan semikonduktor.

Sebuah studi kasus yang diterbitkan oleh Dewan Minyak Sawit Indonesia pada tahun 2023 menyoroti kemitraan antara PT SMART Tbk dan konglomerat FMCG India, yang meningkatkan kapasitas pengolahan sebesar 25โ€ฏ% untuk memenuhi kebutuhan pasar India.

India dan Indonesia berdiri di persimpangan penting. Memanfaatkan kunjungan bersejarah Modi, kedua negara dapat mengubah tantangan menjadi pertumbuhan, menjadikan kekuatan minyak sawit sebagai springboar untuk kemitraan ekonomi yang lebih luas. Bersamaโ€‘sama, mereka dapat menulis masa depan kemakmuran bersama dan perdagangan yang tangguh untuk kedua ekonomi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan