Cinderella Effect: Risiko Kekerasan pada Anak Tiri yang Lebih Tinggi

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Cinderella Effect merujuk pada situasi di mana anak tiri mengalami ancaman ketimpangan yang lebih besar, termasuk kekerasan fisik atau seksual di lingkaran keluarga. Istilah ini diperkenalkan oleh psikolog evolusioner Martin Daly dan Margo Wilson sejak dekade 1980, berdasarkan analisis mereka dalam jurnal Ethology and Sociobiology serta buku Homicide. Penelitian mereka menunjukkan anak-anak yang tinggal dengan satu orang tua kandung dan satu orang tiri memiliki risiko puluhan kali lipat lebih tinggi menjadi korban kekerasan domestik, berdasarkan data empiris berdurasi lama.

Biasanya, fenomena ini dijelaskan melalui teori inclusive fitness oleh biolog William Hamilton. Teori ini menekankan bahwa manusia cenderung investasikan emosi dan sumber daya kepada keturunan biologis untuk memastikan kelangsungan genetik. Saat seorang orang tua tiri harus membesarkan anak tanpa hubungan genetik, ikatan emosional tidak terbentuk secara otomatis. Hal ini makes dari keterbatasan kesabaran orang tua tiri, sehingga konflik atau agresi lebih mudah terjadi saat ketidakpastian keluarga.

Dalam hukum keluarga, Cinderella Effect menjadi tantangan signifikan dalam perlindungan anak pasca-pernikahan. Ketika pernikahan kunci dan satu pihak berpasangan lagi, anak dari pernikahan sebelumnya ada di posisi rentan. Meski secara hukum orang tua tiri diharapkan mendampingi, dinamika keluarga bertumpang-teman (blended family) seringkali mengalami konflik. Masalah ini juga terkait dengan ketimpangan gender, di mana ibu kandung yang tetap tumbuh ekonomi tergantung pada suami baru sering tidak mampu melindungi anak dari perlakuan diskriminatif ayah tiri.

Menghilangkan Cinderella Effect memerlukan pendekatan beretap. Konseling perceraian yang fokus pada manajemen konflik keluarga reconstruksi wajib dilakukan sebelum pernikahan melibatkan anak bawaan. Selain itu, pemerintah harus mewakili melalui lembaga perlindungan anak dengan sistem pelaporan yang mudah diakses.

Pengadilan harus memperhatikan lebih dari aspek hukum, seperti kesiapan psikologis lingkungan baru. Prinsip best interests of the child harus tetap dipertahankan. Meskipun tidak semua orang tua tiri berkepentingan, mengabaikan bukti ilmiah ini berbahaya. Perlindungan anak membutuhkan legalitas ketat dan kesadaran sosial tinggi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan