Longser Sunda Menunggu Panggung di Tasikmalaya, Bukan Sekadar Tepuk Tangan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Radartasik.ID – Di era hiburan digital yang semakin menggemara, ada sebuah seni rakyat Sunda yang semakin rame terdengar. Bukan karena kehilangan cerita, melainkan karena panggungnya perlahan berubah menjadi masa lalu. Longser, teater rakyat yang dulu menjadi pusat kehidupan di masyarakat Priangan, kini lebih sering diperingati daripada dipelajari.

Dulu, sebelum gedung-tedung pertunjukan terpadu, Longser telah mengubah ruang ruang seperti alun-alun, terminal, stasiun, hingga jalan menjadi lokasi kreatif. Historisnya, Longser berdiri sejak 1915 dan berkembang pesat di Bandung serta Area Priangan. Kementeriannya berlangsung sekitar dekade 1920-an hingga 1960-an.

Pernah, Longser tidak mengandalkan kursi VIP atau penanganan formal. Semua peserta duduk membenang di bawah lampu oncor, menyaksikan cerita yang berakar dari kehidupan sehari-hari. Secara simbolis, Longser muncul sebagai suara warga kampung, buruh, petani, dan pedagang yang menggunakan panggung untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara menyenangkan.

Namanya Longser berasal dari dua kata Sunda: melong (melihat) dan kaser (terpikat). Artinya, siapa pun yang melihat pertunjukan ini akan terpikat hingga akhir. Daya tariknya berasal dari dialog lucu, improvisasi pemain, musik yang hidup, hingga keterikatan langsung dengan pengunjung.

Di Longser, batas antara panggung dan penonton hampir hilang. Celetukan pengunjung sering menjadi bagian dari cerita. Konsep ini, yang sekarang dikenal sebagai teater interaktif, dulu hidup di desa-desa Sunda sejak puluhan tahun lalu.

Transformasi ini juga didukung oleh maestro Ateng Japar. Pada 1939, ia mendirikan kelompok Pancawarna yang meletakkan Longser dari seni jalanan menjadi pertunjukan yang bisa tampil di gedung kesenian. Perubahan ini membuktikan bahwa Longser tidak hanya dihargai warga akar, tetapi juga memiliki nilai artistik yang seimbang dengan teater modern.

Di era modern, Longser menjadi contoh seni yang mengintegrasikan teknologi dan tradisi. Namun, tantangan utamanya adalah mempertahankan keseragaman generasi. Meskipun banyak yang memahami nilai kesenian ini, penyelenggaraan masa depan masih tergantung pada komitmen warga.

Pemerintah Tasikmalaya merencanakan program revitalisasi Longser sebagai bagian dari strategi pengembangan wisata budaya. Proyek ini diharapkan bisa menarik investasi dari masyarakat dan perusahaan.

Keseluruhan, Longser non seulement menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi media untuk menyelami isu sosial. Kemampuannya memadukan humor, kreativitas, dan interaksi langsung menjadikannya seni unik.

Longser mengajak kita untuk mencari nilai budaya di tengah modernitas. Sastra rakyat ini membuktikan bahwa keindahan tidak selalu terletak pada kesederhanaan, tetapi pada kemampuan untuk menghidupi kehidupan sehari-hari.

Masyarakat dilarang mengabaikan Longser. Setiap panggung yang tetap berdiri adalah bukti bahwa tradisi bisa hidup dalam bentuk baru. Yuk, jaga dan promosikan Longser agar cerita rakyat tetap hidup.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan