Dilarang Menampilkan Produk Rokok, Tasikmalaya Dikenal sebagai Kota yang Menyukai Praktik ini

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya terus memperkuat peran sebagai pusat pengendalian konsumsi rokok. Kota ini dilaksanakan sebagai lokasi pelatihan nasional terkait larangan menampilkan produk rokok dan rokok elektronik di toko penjualan. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kemenkes bersama NOTC pada Senin (29/6/2026) di Hotel Santika.

Pelaksana dari 11 kota di Jawa Barat serta dua kota luar provinsi menyelenggarakan pelatihan ini. Bantang Priyono, dari NOTC, menjelaskan penentuan Tasikmalaya karena regulasi yang menjamin larangan display produk rokok. Lokasinya di tengah Jawa Barat memudahkan akses peserta dari berbagai wilayah.

“Regulasi di Tasikmalaya sudah kaku. Selain itu, lokasinya strategis untuk mendatangkan peserta dari berbagai daerah,” ujarnya. Pelatihan bertujuan memperkuat penegakan larangan pemajangan produk rokok di tempat penjualan sebagai bagian dari strategi pengendalian konsumsi.

Etalase toko yang penuh bungkus rokok dianggap bukan sekadar penjualan, tetapi juga alat promosi yang memicu minat generasi muda. Pada hari kedua, peserta akan melakukan inspeksi lapangan di toko ritel untuk memastikan penerapan aturan.

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menekankan landasan hukum yang kuat, mulai dari regulasi nasional hingga Peraturan Daerah 2018 yang diperkuat dengan peraturan 2025. “Kegiatan ini adalah bagian dari kawasan tanpa rokok. Kita memastikan display rokok di ritel tertutup sesuai ketentuan,” katanya.

Peserta juga akan melakukan pengawasan langsung terhadap kepatuhan toko, termasuk evaluasi iklan rokok luar ruang yang mungkin melanggar ketentuan.

Data tambahan menunjukkan bahwa kebijakan ini dapat mengurangi visibilitas promosi rokok di pasar. Studi tahun 2025 menunjukkan penurunan 15% layar rokok di wilayah Jawa Barat setelah pelatihan serupa.

Contoh kasus, kota Bandung berhasil mengurangi penawaran rokok di ritel sebesar 30% setelah pelatihan serupa pada 2024. Infografis menunjukkan korelasi antara pelatihan dan penurunan konsumsi rokok di obat.

Tasikmalaya mungkin menjadi contoh sukses jika pelatihan ini menghasilkan peningkatan kepatuhan toko. Fokus pada generasi muda yang mudah terpengaruh oleh promosi rokok menjadi kunci. Penguatan regulasi dengan pelatihan praktis bisa menjadi solusi jangka panjang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan