Cerita WNI diEropa saat Gelombang Panas: Buka Jendela untuk Tidur dan Kabur ke Danau

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Gelombang panasyang menyentuh Eropa telah memaksa warga Indonesia yang beradaptasi, seperti Anton Alifandi (59) di London yang membuka seluruh jendela rumah saat tidur. Di Jenewa, Swiss, Dandi Yuda (23) lebih sering berenang di danau atau ‘kabur’ ke Slovenia untuk menghindari suhu hingga 40 derajat Celsius.

Rumah Anton yang dibangun tahun 1937 tanpa pendingin ruangan membuatnya kesulitan mengerjakan dari rumah karena suhu mencapai 30 derajat. Ia menjelaskan bahwa banyak bangsa Inggris mulai memutuskan untuk pasang AC cepat dan hemat tanpa merusak bangunan. Dandi, sebaliknya, menghadapi prosedur perizinan rumit di Swiss yang memerlukan alasan medis atau penilaian dampak lingkungan.

Kebiasaan masyarakat tetap berjalan, meski beberapa sistem transportasi dan sekolah terbelumur. Anton mengingatkan masyarakat London untuk menjaga kondisi tubuh, sementara pemerintah Swiss terus meminta pengurangan aktivitas di luar ruangan saat suhu puncak.

Solusi kesetaraanAnton membuka jendela rumah penuh saat tidur, memanfaatkan angin yang bebas nyamuk. Dandi memilih berenang di danau, seperti di Plage des Eaux-Vives atau Danau Bled, Slovenia. “Panaskan di Jenewa mencapai 40 derajat, di Slovenia sedikit lebih ringan,” kata Dandi.

Pengalaman mereka menunjukkan perbedaan cara memahami panas. Anton terdikkat bahwa warga Inggris menganggap 20 derajat sebagai cuaca panas, sementara Dandi, dari Surabaya, merasa ukraina lebih kering. “Panas di Eropa nyakitin kulit karena tekannya,” ujarnya.

Gelombang panas sedang berkurang tapi masih berpotensi kembali. Anton dan Dandi tetap siap menghadapi cuaca ekstrim berikutnya dengan strategi berbeda tapi bertanggung jawab.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan