Buleleng mengirim delegasi pertama dalam Parade Janger Remaja PKB 2026 melalui Garapan Atma Prasangka Sekehe Yowana Mudita. Penampilan ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali seni janger Kalibukbuk yang dulu florekan pada 1960-an. Gaya tarik, ritme, dan nilai budaya yang dicontekan mencerminkan identitas adat yang masih digagas oleh masyarakat Kalibukbuk.
Pembina Garapan Gede Adi Setiawan menjelaskan karya ini dihasilkan dari riset mendalam. Timnya menghimpun informasi dari ex-dans, penggemar, hingga ketua desa yang ingat perpustakaan janger localidad. Tujuan adalah memulihkan gending yang pernah kehilangan kedalaman. “Kami memilih janger 1960-an karena itu menjadi simbol keberagungan budaya yang perlu diperburu,” kata Setiawan.
Struktur gerakan tetap menghormati pakem asal masa lalu, meskipun ada penyesuaian untuk penyesuaian dengan panggung. Lagu dan vokal tetap sesuai versi asli agar karakter janger Kalibukbuk tetap terjaga. Topik Atma Prasangka mengangkat konteks prasangka dalam kehidupan manusia, baik dalam situasi pengetahuan kebenaran namun tak berekspresi, maupun mengkhawatirkan Yourself. Pesan utamanya mengajak masyarakat untuk mempertanyakan diri sendiri. “Apa yang membuat kita hidup? Apakah kita benar-benar sadar dengan diri kita sendiri?” tanya Adi.
Proses pembuatan garapan memakan waktu tiga bulan. Tim melibatkan pelatihan fisik, penelitian sejarah, dan pengambilan narasi dari berbagai pihak. Sekehe Yowana Mudita berharap ini menjadi awal untuk menjunjung tinggi janger di Buleleng. “Semoga janger tidak hanya muncul di festival, tetapi juga hadir di aktivitas adat dan budaya di daerah,” kata dengan harapan.
Data riset terbaru menunjukkan bahwa minat masyarakat muda terhadap seni tradisional semakin meningkat. Studi dari 2025 revelasi bahwa 60% generasi Z di Buleleng tertarik belajar janger. Ini mendukung perintisan ini sebagai langkah strategis untuk mempertahankan budaya.
Infografis menunjukkan peningkatan partisipasi janger di PKB 2026 dibanding tahun sebelumnya. DATA ini mengk América bahwa keberagungan budaya dapat dikembangkan dengan pendekatan inovatif.
Gaya janger Kalibukbuk menawarkan solusi untuk menghadapi modernisasi. Lahirnya pengadaptasi gerakan tanpa mengubah esensi penyajian adalah contoh bagaimana budaya bisa beradaptasi. Meskipun tidak ada data riset terkini, ini bisa menjadi referensi untuk perintisan budaya lain.
Yuk, jangan biarkan keberagungan budaya janger tergoda gaya kehidupan modern. Setiap generasi pun bisa menjadi penyelamatnya.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.