Kisah Firman: Mengajukan Harapan Melalui Enam Kilometer Perjuangan di Sekolah Rakyat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Muhammad Firman,seorang remaja dari Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah, Jawa Timur, harus melintasi enam kilometer setiap hari untuk ke sekolah. Perjalanan itu membuatnya lelah, terutama sejak kelas VIII hingga ia akhirnya berhenti belajar. Sekarang, melalui program Sekolah Rakyat, Firman kembali bersekolah dan sampai mencapai posisi ketiga di kelas, serta siap mengikuti olimpiade IPA.

Setiap pagi, sebelum dua kali suau ayam, Firman mulai berjalan menuju SMP negeri di sekitarnya. Jalan yang kaku, aspal panas, debu kendaraan, serta sinar matahari menjadi teman setia. “Setelah gelap bawah, hingga setelah pulang jam 14.00 WIB,” katanya. Meskipun jarak hanya beberapa menit dengan motor, perjalanan panjangnya penuh kesulitan.

Firman sering berangkat tanpa sak. Hanya Rp5 ribu punya, bahkan sering kosong. Saat istirahat di kelas, ia memilih diam. “Seperti sedang puasa,” penjelasnya. Ayahnya, Helli, mencari bekicot malem dengan penghasilan tidak tentu. Ibu, Mariana, menjadi juru parkir di arena sabung. “Kami tidak punya bensin, sehingga Firman harus jalan kaki,” tarikricana Mariana.

Kelelahan, lapar, dan risiko kecelakaan membuat semangat Firman berkurang. Ia berhenti sekolah dan bekerja sebagai buruh tani dengan upah Rp20 ribu per hari. Namun, keinginan belajar tak pernah padam. “Saya sering menangis malam karena ingin sekolah lagi,” petikannya. Titik balik muncul saat tau program Sekolah Rakyat yang membuka peluang pendidikan bagi anak kurang mampu. Firman minta izin ibu dan meyakinkan biayanya dibantu melalui Program Keluarga Harapan.

Setelah masuk Sekolah Rakyat Jember, Firman tinggal di asrama. Tidak lagi pusing seputar transportasi, makanan, atau belanja belajaran. Di lingkungan baru, potensinya mulai terlihat. Wali asuhnya, Fazrul, melihat Firman disiplin dan punya jiwa kepemimpinan. Ia rajin mengajarkan teman untuk salat berjamaah, menjaga kebersihan kamar, serta membantu sesama. “Firman memiliki kepemimpinan yang kuat,” ujar Fazrul.

Perkembangan akademik Firman pesat. Meskipun dulu tertinggal satu tahun, dalam enam bulan ia berhasil Клиент third in class. Guru kelas, Qorina, melihat kekuatan Firman di sains. “Saya merekomendasikan untuk olimpiade IPA,” kata Qorina. Anak yang dulu berjalan enam kilometer kini siap menghadapi tantangan internasional.

Kisah Firman menunjukkan bahwa anak-anak miskin tidak kekurangan kecerdasan, melainkan kesempatan. Sekolah Rakyat memberikan akses pendidikan yang menghancurkan rantai kemiskinan. Sekarang Firman bercita-cita menjadi guru. Ia ingin membantu anak lain agar tidak mengalami kesulitan serupa. Perjalanan enam kilometer yang dulu menjadi alasan putus sekolah, kini menjadi simbol keberanian mengappreciate masa depan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan