Kepanikan Aksi Berat untuk Berburuh di Tasikmalaya, Simbol Perjuangan yang Dikaget

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Radartasik.ID โ€“ Hari Buruh Internasional pada tahun 2026 tidak menggelabur dengan tumpukan tekanan, melainkan dengan kehadiran langsing yang penuh simbolisme. Aliansi Masyarakat Sipil Vol. 2 memilih cara tidak aktif untuk merespons keinginan buruh dalam konteks industri yang terus berkembang. Aksi ini digelar pada Jumat, 1 Mei 2026, di dua lokasi strategis: depan Gedung DPRD dan kawasan Balai Kota.

Dalam aktivitas di depan DPRD, peserta menggunakan lutut hitam selama 30 menit sebagai simbol perasaan yang tertunda. Selanjutnya, mereka bergerak ke Balai Kota untuk menyampaikan dorongan langsung. Koordinator aksi, Dera, menjelaskan bahwa aksi diam bertujuan menyoroti suara yang sering terabaikan di tengah gerakan pembangunan. “Kita ingin menunjukkan bahwa banyak suara yang tidak terdengar di balik hiruk pikuk pembangunan. Industri semakin maju, tapi suara buruh makin sayup. Kesejahteraan bukan hadiah, tapi hak,” tegas Dera.

Perlu diingat, aksi ini juga memantulkan isu standar upah yang belum memadai. Dera menyoroti kondisi guru honorer yang masih tidak sejahtera dan kesesuaian upah UMK. “UMK mungkin naik, tapi belum cukup menjawab kebutuhan hidup. Ini ironi di kota yang terus bicara pembangunan,” ujarnya.

Di tengah debat pembangunan, aksi ini memanggil perhatian: yang paling berisik belum selalu didengar, sementara yang diam bisa jadi penyimpang keinginan terburuk.

Terakhir, ini menjadi pengingat bahwa setiap tindakan, meskipun terasa kecil, bisa mendorong perubahan. Suara yang tertunda bukan berarti tak ada pengaruhโ€”akan sejenak, ia akan terbuka dan menggerakkan hati.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan