Hasil Muscab PPP Kota Tasikmalaya dipimpin DPW, Skema Formatur Rivalitas Dua Kubu Internal

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Radartasik.id — Pergerakan inner partai PPP di Tasikmalaya mulai bergerak di fase baru meski masih terpinggirkan oleh ketidaknyamanan.

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Jawa Barat resmi menangkan proses Musyawarah Cabang (Muscab) yang dulu diwarnai konflik antar kelompok.

Ketua DPW PPP Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, menyatakan langkah ini bertujuan menyelesaikan kondisi yang dinilai bisa melesat.

  • Sekda Sebut Nilai Pembebasan Lahan SR di Tasikmalaya Sementara Disiapkan Rp10 Miliar
  • Balita Tasikmalaya Meninggal Diduga Campak, Status Masih Ditelusuri

DPW langsung mengadakan rapat terbatas Rabu (29/4/2026) sore untuk menegas rencana penyelesaian.

“Hasil rapat akan menentukan komposisi formatur dari berbagai pihak yang dulu berlawanan. Kami ingin tidak ada yang merasa rugi atau ditolak,” ujar Uu kepada Radartasik, Rabu malam.

Alasan utama perubahan mekanisme: bukan lebih memilih ketua langsung seperti Muscab sebelumnya, tapi meneruskan proses penentuan ke atas tim formatur.

Muscab hanya menetapkan formatur, sementara pengaturan ketua dan struktur kepengurusan diserahkan ke tim tersebut.

Formatur terdiri dariwakilannya dua kelompok, DPC, DPW (otomatis oleh Uu), dan satu orang dari DPP. Agus Wahyudin ditunjuk sebagai wakil DPC.

Tapi Agus Wahyudin memilih tidak berpartisipasi dan menyerahkan tugas penuh ke DPW.

DPW memberikan satu minggu bagi tim formatur untuk menyusun kepengurusan lengkap, mulai dari ketua hingga bendahara.

Hasilnya kemudian dikirim ke DPW untuk direkomendasikan ke DPP.

Namun, rekomendasi formatur tidak selalu sesuai dengan keputusan akhir.

AD/ART memberikan kesempatan kepada DPW untuk menentukan figur ketua.

“Bisa saja hasil formatur berbeda dengan rekomendasi. Karena kewenangan penentuan tetap ada di DPW,” tegas Uu, menyoroti kompleksitas politik yang kadang tidak linear.

Dia berharap keputusan ini menjadi solusi “tidak sempurna, tapi cukup adil”. Mengalusi, Uu menambahkan jika tidak bisa sempurna, jangan menyerah semuanya.

Dikenal lebih dalam, ia menyampaikan pesan keras: calon Ketua DPC PPP Tasikmalaya harus memiliki komitmen politik yang lebih kuat.

“Kalau belum siap maju menjadi wali kota, jangan siap jadi ketua DPC,” ujarnya—sinyal bahwa posisi partai bukan sekadar jabatan, tapi langkah menuju kompetisi politik.


Partai politik sering mengalami perubahan mekanisme untuk menjaga keadilan atau mengatasi konflik. Di Tasikmalaya, pengalihan prosedur Muscab menunjukkan langkah untuk mengurangi brusqui antar kelompok. Meski tidak sempurna, sistem ini memungkinkan kompromi yang lebih luas. Waktu akan menguji apakah rencana ini bisa mengurangi ketegangan atau menjadi baru satu sumber dinamika.

Sebagai pihak yang mengelola struktur partai, DPW harus tetap transparan dalam proses penentuan. Calon ketua DPC harus membuktikan kesadaran akan prioritas nasional, bukan hanya ambisi personal. Partai yang ingin tetap relevan harus selalu mengadaptasi dengan dinamika sosial yang terus berkembang.

Kebanggaan politik bukan hanya tentang kekuatan dalampartai, tapi juga kemampuan membangun perseragatan. Proses ini menjadi ujian bagi PPP untuk menunjukkan apakah mampu menyelenggarakan pendapat yang beragam tanpa kehilangan koherensi.

Semua perubahan politik dimulai dari keputusan kecil. Jika tidak ditangani dengan bijak, bisa merusak kepercayaan. Namun, jika dilakukan dengan visi akrab, bisa menjadi dasar untuk partisipasi yang lebih luas.

Yang penting, partai harus tetap fokus pada tujuan bersama. Semua keputusan, besar maupun kecil, harus berdampak positif bagi masyarakat.

Jika ingin menjadi ketua, jangan lupa jangan lupa koreliitas. Keputusan politik ini bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk masyarakat yang memberanikan partai tersebut.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan