Didorong Nyunda di Tasikmalaya untuk Menjati Nilai dan Adat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya menjadi lokasi pertemuan unik di Hotel Horison, Senin (27/4/2026), dimana ratusan praktis budaya berdiskusi tentang cara mempertahankan warisan kulturnya di tengah modernitas. Diskusi ini, yang diambil diForum Jejak Leluhur di Tatar Sunda, mengajak para pendamping untuk mengubah budaya menjadi bagian hidup, bukan hanya simbol.

Salah satu narasi yang diangkat adalah “nyundanya”—konsep yang mengacu pada nilai hidup dalam tindakan sehari-hari. Ferdiansyah, Anggota Komisi X DPR RI, menekankan bahwa budaya Sunda tidak boleh diam di sejarah, tapi harus bergerak. Ia memperingatkan bahwa mereduksi budaya hanya menjadi bahasa atau atribut akan menghilangkan kedalaman maknanya. “Jangan hanya ngomong Sunda, tapi sebarang tindakan nyundanya,” kata ia, sambil mengkritik kebiasaan yang sering terjebak di permukaan.

Bagi Tasikmalaya, kota ini bukan hanya pinggiran sejarah Sunda, tetapi juga pusat penting dalam Priangan Timur. Dari jejak koperasi hingga peran Bank Indonesia di wilayah tersebut, Tasikmalaya punya momentum kuat. Retno Raswaty, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, menambahkan bahwa pelestarian bukan hanya tentang melindungi benda, tapi juga meningkatkan kapasitas masyarakat. Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2026 menunjukkan ini, dengan 328 proposal masuk dari 27 kabupaten/kota, termasuk peningkatan partisipasi masyarakat adat.

Setiap proyek yang dilaksanakan harus mengarah pada penguatan komunitas. Contohnya, penguatan desa adat yang hingga kini masih minim. Diskusi di forum ini mencoba membuka jalan praktis, seperti penentuan persatuan desa, agar budaya tidak hanya terjaga dalam ruang formal, tapi juga hidup di kehidupan sehari-hari.

Inilah janji praktis. Parang budaya yang hidup di rantai interaksi sosial, bukan hanya di buku atau museum. Semakin cepat zaman berubah, semakin penting untuk menemukan keseimbangan antara tradisi dan adaptasi. Ini bukan tentang meninggalkan warisan, tapi tentang memanfaatkannya dalam solusi yang relevan.

Parang budaya yang hidup dalam tindakan sehari-hari akan lebih kuat. Semua Orang bisa mulai dari hal kecil: belajar bahasa lokal, menghargai ritual, atau mendukung proyek komunitas. Tapi kesempatan ini terbatas. Semakin banyak yang merendahkan budaya menjadi warisan simbolis, semakin sulit untuk mengembalikan nilai nyarisannya.

Kita harus bertindak sekarang. Bagaimana? Dengan memanfaatkan teknologi, seperti aplikasi yang menyimpan cerita lokal, atau program pendidikan yang mengajarkan budaya di sekolah. Budaya bukan hanya warisan, tapi juga alat untuk merajut masyarakat. Jika kita tidak berani, akan terasa seperti nyanda yang tak pernah bergerak.

Semakin jauh kita dari warisan, semakin hampir kita akan menjadi. Tapi jika kita kembali ke nyundanya, mungkin kita bisa menemukan jalan yang lebih baik.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan