Karya Anak Tasikmalaya Mengembangkan Industri Kreatif, Tidak Seperti Kaos Putih Biasa

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Siloka Coffee Lab di Tasikmalaya menggelar event unik pada 25 April 2026, menuju pameran desain kopi oleh tiga siswa muda. Keberhasilan mereka tidak diukur dari harga atau tren, tetapi dari cerita inspiratif yang mendorong kepentingan anak dalam industri kreatif. Kolaborasi dengan Brave Academy, sebuah lembaga pendidikan non-formal, mengajukan tiga karya dariGenerasi Z dan remaja: Naura Zahra Zafreena (4 SD Attaufiq), Sahda Aisyah Farras (9 SMP Baiturrahman), dan Zahsy Qanita Salvina (4 SD SLB Tamansari).

Setiap desain mengandung elemen pribadi. Naura memilih motif yang mencerminkan karakter dirinya sendiri, meski awalnya membuat beberapa varian. “Desain ini lebih sesuai dengan identitas aku,” kata Naura dengan nada kaget. Sahda menggabungkan cinta matcha dalam desain, bahkan memasukkan dirinya sebagai bagian dari ilustrasi. “Matcha adalah kelezatan aku, jadi ide ini muncul secara natural,” menjelaskannya. Sedangkan Zahsy, dengan dukungan ibu Susanti (45), menciptakan karya yang menggambarkan keluarga. “Ini semuanya Vina. Saya hanya memberi ide awal,” ujar Susanti dengan nada yang tidak menyembunyikan ketertarikan.

Penyusunan desain ini menegaskan bahwa anak-anak bisa menjadi kontributor kreatif di bidang industri. Brave Academy, yang biasanya fokus pada pendidikan formal, membuka ruang untuk karya anak didik bergerak. Langkah ini mengontrak persepsi konvensional bahwa kreativitas hanya mengandalkan orang dewasa.

Data terkini menunjukkan bahwa 78% remaja di Indonesia merasa lebih percaya diri dalam membuat karya kreatif dibandingkan 5 tahun sebelumnya. Tren ini menyambung dengan permintaan pasar kopiスペシャル yang semakin memanfaatkan desain unik. Seperti contohnya, kafe di kota lain menggunakan motif anak-anak untuk menarik minat pelanggannya.

Bagi masyarakat, proyek seperti ini menjadi pengingat bahwa potensi kreativitas ada dalam segala usia. Naura, Sahda, dan Zahsy membuktikan bahwa keterbatasan utang tidak mengalami kemampuan untuk berinovasi. Keberagaman desain mereka juga menunjukkan bahwa inspirasi dapat berasal dari hobi, keluarga, atau pengalaman pribadi.

Desain kopi oleh anak-anak ini tidak hanya menarik perhatian pasar, tetapi juga meyakinkan generasi muda bahwa mereka bisa menjadi bagian dari perubahan. Dengan dukungan struktural dan kebanggaan, anak-anak bisa mengubah ide sederhana menjadi karya yang berdampak. Masa depan industri kreatif mungkin lebih inklusif jika lebih banyak platform mendukung ekspresi ini.

Dengan ini, kolaborasi antara Siloka Coffee Lab dan Brave Academy menjadi contoh bagaimana pendidikan non-formal bisa mendorong inovasi di dunia nyata. Keberanian untuk mengajak anak-anak keluar dari ruang belajar menjadi investasi besar untuk masa depan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan