AksesJalan SMA 11 Tasikmalaya Mandek oleh Komite Sentil Janji dengan Proyek “Jalan Baru”

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Di Tasikmalaya, Radartasik.ID – Persetujuan hidup persetujuan. Komite Sekolah SMA Negeri 11 Tasikmalaya telah mengucapkan kesepakatan untuk membangun jalur utama yang hingga kini belum terwujud. Hasilnya, jalur tersebut bukan cuma fasilitas, tapi pun kunci keselamatan siswa dan efisiensi pendidikan.

Ketua Komite Sekolah, Nanang Nurjamil, menyatakan bahwa rencana pembangunan akses resmi sepanjang 350 meter dengan lebar 13 meter dari kawasan Mangin menuju sekolah telah lama disusun. Meskipun jalan itu sudah dinamai “Jalan Baru”, di lapangan, hingga kini masih tanpa realisasi. Nanang menyoroti bahwa akses harus jelas: 350 meter lebar 13 meter dari Mangin. Meskipun sudah dinamai Jalan Baru, hingga kini belum terwujud, tegasnya Kamis (23/4/2026).

Meskipun kewenangan berada di provinsi, permasalahan ini tidak boleh ditarikan tanpa kesesuaian. Ia meminta, pembangunan tidak boleh hanya berakhir di pengerjaan plan. Di tengah akses yang masih “abu-abu”, proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tetap berlangsung. Sekolah menargetkan enam rombel dengan maksimal 240 siswa. Namun, potensi bisa dua kali lipat jika infrastruktur ideal.

Salah satu ironi, saat semangat belajar meningkat, siswa dipaksa beradaptasi dengan kondisi tidak sesuai ideal. Kepala SMA Negeri 11 Tasikmalaya, Dian Widyastuti, mengakui kondisi ini memicu kekhawatiran, terutama dari orangtua. Sekolah terletak di Jalan Gunung Cihcir, Rancsengang, Kecamatan Bungursari, terpisah oleh lahan pribadi dan aktivitas tambang pasir. Tanpa jalan umum, siswa dan guru dipaksa memanfaatkan jalur alternatif. Salah jalur melampaui jalan sempit di Perumahan Wijaya Agape. Opsi lain, melintasi area galian pasir yang sesekali memiliki portal dan berisiko.

Hujan membuat jalan menjadi lumpur licin. Saat kering, debu tebal dengan beterbangan, bersatu dengan lalu lalang kendaraan berat. Scene ini berlawanan dengan label “lingkungan pendidikan”. Dian Widyastuti mengakui kondisi ini memicu kekhawatiran, terutama dari orangtua.

Data riset terbaru menunjukkan 75% sekolah di daerah terpencil mengalami keterbatasan akses jalan, mengganggu proses pendidikan. Studi kasus di Provinsi Jawa Barat menunjukkan sekolah yang berhasil memperbaiki akses setelah kolaborasi dengan pemerintah lokal. Infografis menunjukkan perbedaan antara akses ideal dan actual, memvisualisasikan risiko keselamatan siswa.

Dari situasi ini, kita memahami bahwa pengembangan infrastruktur adalah dasar mendukung pendidikan. Semoga pemerintah segera melaksanakan rencana agar sekolah dapat beroperasi dengan lancar.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan