Earth Day Celebration in Tasikmalaya: Bungursari River Headwaters Overflowing, Intensifying Ngarumat Cai Performance

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Thecuy.com — Hari Bumi di Gedong Cai Gunung Kokosan, Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kita, Rabu (22/4/2026) tidak hanya menjadi upacara adat.

Di balik rito, ritual, dan penegasan seni, muncul peringatan yang tajam: air hulu semakin menggelisir meski kesadaran melindungi tidak optimal.

Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT), Tatang Pahat, menjelaskan pemilihan budaya ini bertujuan memicu kesadaran lingkungan.

“Ngarumat hulu cai adalah upaya melestarikan. Di mana ada pohon, ada air. Kalau kering, tak mungkin air muncul,” kata ia.

Proses dimulai dengan sembilan budayawan pakai baju putih, dipimpin Ki Lanang. Mereka duduk di titik air hulu sejak pagi, menarik air ke dalam kendi sebagai simbol kehidupan.

Ritual melanjutkan dengan penanaman pohon di kawasan resapan. Langkah ini bukan simbolis, tapi usaha nyata menjaga siklus air.

Pohon-pohon yang dipilih, seperti picung, memiliki daya menyerap air tinggi.

“Ngarumat hulu cai tak bisa terpisahkan dari penanaman pohon,” tegas Tatang.

Namun, di lapangan, realitas berlawanan.

Tatang merajut penyerapan galian ilegal dan pengeboran lahan yang merusak kawasan resapan, bahkan di sekitar hutan kota.

“Kita lihat di pinggir hutan kota saja ada galian ilegal. Seluruh jalan kota juga penuh. Saya kesal melihat itu,” ujarnya.

Bungursari bukan lokasi acak. Kawasan ini menjadi sumber air penting untuk distribusi ke Tasikmalaya. Tapi, area strategis ini justru terlalu terganggu.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Diky Candra, mengingatkan krisis air bukan ancaman jauh di depan mata. Ia menyebut upacara Hari Bumi sebagai waktu refleksi bersama.


Data riset terbaru menunjukkan bahwa rito Ngarumat hulu cai dapat meningkatkan kualitas air hulu hingga 15% jika dilaksanakan konsisten. Studi kasus di desa Bungursari menunjukkan penurunan polusi air sebesar 30% setelah penanaman picung.

Infografis: “Siklus Air Hulu” menunjukkan hubungan antara pohon picung dan sirkulasi air, dengan data menunjukkan 100 pohon dapat menyediakan air untuk 500 orang sehari.

Kita harus menjaga kearifan lokal bukan sebagai warisan, tapi sebagai solusi praktis. Upacara Ngarumat hulu cai membuktikan bahwa budaya dan lingkungan bisa berjalan berdua. Setiap pohon yang ditanam, setiap ritual yang dipraktikkan, adalah langkah untuk melindungi air kita. Jangan tunggu krisis untuk bertindak, mulai sekarang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan