Aceh Tamiang Jadi Prioritas Pemulihan, Mendagri Sebut Dampak Bencana Paling Berat

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan bahwa Aceh Tamiang menjadi fokus utama dalam upaya pemulihan pascabencana Sumatera. Ia menilai dampak bencana di wilayah tersebut merupakan yang paling parah dibandingkan daerah-daerah lainnya yang terdampak.

“Dari seluruh kabupaten/kota terdampak, yang paling berat benar-benar terjadi di Aceh Tamiang,” ujar Tito saat berada di Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, Banten, pada Sabtu (3/1/2026).

Dari total 52 kabupaten/kota di tiga provinsi yang terkena dampak bencana, sebagian besar daerah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Di Aceh, 11 dari 18 kabupaten/kota terdampak sudah mengalami perbaikan kondisi. Namun, tujuh daerah lainnya masih membutuhkan penanganan khusus, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya.

Tito menjelaskan, Aceh Tamiang memiliki kondisi geografis unik yang memperparah dampak bencana. Wilayah ini berada di cekungan tanah yang dikelilingi dataran tinggi, sehingga air dari sekitarnya mengalir deras dan menggenangi wilayah tersebut. “Tamiang itu seperti mangkuk. Dikelilingi daerah yang lebih tinggi, sehingga banjir masuk ke wilayah cekungan ini,” ucapnya.

Bagi Tito, indikator pemulihan tidak hanya dilihat dari surutnya air atau pulihnya infrastruktur fisik. Lebih dari itu, pemulihan diukur dari normalnya kembali roda pemerintahan dan gairah ekonomi masyarakat. “Pulih itu ketika pemerintahan daerah berjalan normal dan ekonomi hidup kembali. Aktivitas pasar, restoran, warung, hotel, itu berjalan,” jelasnya.

Dua minggu sebelumnya, kondisi tersebut belum tampak di Aceh Tamiang. Namun, dalam kunjungan terakhirnya, Tito mencatat ada sedikit kemajuan, meski masih terbatas. Sebagian kecil warung dan restoran mulai buka, dan aktivitas pemerintahan mulai tertata. “Tapi ini belum cukup. Dampaknya sangat luas,” tambahnya.

Oleh karena itu, pemerintah pusat memperkuat personel dan sumber daya untuk mempercepat proses pemulihan. Salah satu langkah konkret adalah pemberangkatan 1.138 Praja IPDN yang ditugaskan untuk membersihkan kantor pemerintahan, mengaktifkan kembali layanan publik, serta mendampingi aparatur daerah yang terdampak bencana.

Data riset terbaru menunjukkan bahwa daerah dengan topografi cekungan memiliki risiko tinggi terhadap banjir bandang dan genangan yang lebih lama. Studi dari Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada (2025) mencatat bahwa daerah cekungan membutuhkan waktu pulih 1,5 kali lebih lama dibandingkan daerah dataran tinggi. Faktor ini menjelaskan mengapa Aceh Tamiang membutuhkan perhatian lebih intensif.

Dalam konteks manajemen bencana, pendekatan berbasis wilayah rawan menjadi kunci. Infografis dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2025 menunjukkan bahwa Aceh Tamiang masuk dalam kategori risiko tinggi banjir dengan skor 8,7 dari skala 10. Hal ini didukung oleh data citra satelit yang menunjukkan luas genangan mencapai 1.200 hektare pada puncak bencana.

Studi kasus pemulihan bencana di wilayah serupa, seperti Bima, Nusa Tenggara Barat (2023), menunjukkan bahwa keterlibatan personel dari luar daerah sangat efektif dalam percepatan pemulihan. Dalam studi tersebut, keterlibatan 500 personel gabungan mampu mempercepat normalisasi layanan publik hingga 40% lebih cepat dibandingkan estimasi awal.

Solusi jangka panjang yang bisa dipertimbangkan adalah pembangunan sistem drainase besar berbasis ekosistem, seperti wetland buatan dan kanal pengendali banjir. Beberapa kota di Asia Tenggara, seperti Johor Bahru, Malaysia, telah menerapkan solusi serupa dengan hasil signifikan dalam mengurangi risiko banjir cekungan.

Pemulihan Aceh Tamiang bukan hanya soal membersihkan lumpur, tetapi membangun kembali harapan dan kepercayaan masyarakat. Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, pemulihan bukan hal mustahil. Semangat gotong royong dan komitmen bersama akan menjadi fondasi kuat bagi kebangkitan Aceh Tamiang. Mari dukung setiap langkah pemulihan, karena setiap tindakan kecil hari ini adalah investasi besar bagi masa depan yang lebih tangguh.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan