Pemerintah melalui Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan (KemenImipas) mencatat pencapaian signifikan dalam program Ketahanan Pangan yang diterapkan di lembaga pemasyarakatan (lapas) seluruh Indonesia. Salah satu wilayah yang menjadi sorotan adalah Pulau Nusakambangan di Cilacap, Jawa Tengah, yang kini menjadi pusat pengembangan program tersebut. Sebanyak 12.146 narapidana telah terlibat aktif dalam program ini sejak awal pelaksanaannya hingga akhir Desember 2025. Mereka tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga turut serta dalam kegiatan produktif yang mendukung ketahanan pangan nasional.
Dari segi luas lahan, tercatat sekitar 4,4 juta meter persegi lahan telah digarap oleh para warga binaan permasyarakatan. Hasilnya tidak hanya berupa panen pangan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata. Premi atau penghasilan yang diperoleh oleh para narapidana dari program ini mencapai lebih dari Rp 905 juta. Jumlah ini menjadi bukti bahwa pembinaan melalui kegiatan produktif dapat memberikan manfaat ganda, baik bagi narapidana maupun bagi ketahanan pangan nasional.
Program Ketahanan Pangan ini merupakan bagian dari visi besar KemenImipas untuk menanamkan nilai kemandirian dan keterampilan hidup kepada para narapidana. Menteri Agus Andrianto menekankan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan formalitas, melainkan upaya nyata untuk membekali narapidana dengan keterampilan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan. Dengan begitu, mereka diharapkan mampu membangun kehidupan yang lebih baik setelah menjalani masa pidana. Program ini juga sejalan dengan cita-cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan di Indonesia.
Selain Ketahanan Pangan, KemenImipas juga gencar mengembangkan keterampilan narapidana di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Berbagai bengkel pelatihan kerja di dalam lapas kini dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi. Beberapa produk buatan narapidana bahkan telah menembus pasar internasional, seperti coir shade dari Lapas Garut yang diekspor ke Spanyol, coir net dari Lapas Cirebon yang dikirim ke Korea Selatan, serta coco rope dari Lapas Purwodadi yang menembus pasar Belgia, Prancis, dan Australia.
Hingga saat ini, terdapat 13 jenis produk yang telah diekspor ke 11 negara berbeda. Lebih dari 23 ribu narapidana tersebar di 16 lapas terlibat dalam produksi barang-barang ekspor tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan berbasis keterampilan dapat menghasilkan dampak ekonomi yang nyata, baik bagi narapidana maupun bagi negara. Nilai ekspor yang dihasilkan bukan hanya sekadar angka, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan dalam membangun manusia yang produktif meskipun berada dalam masa hukuman.
Nusakambangan kini tidak lagi dikenal hanya sebagai pulau tempat penghukuman, tetapi juga sebagai pusat pelatihan dan pemberdayaan. Di sana dibangun berbagai fasilitas seperti balai pelatihan konveksi, pelintingan rokok, pengolahan pupuk organik, pengolahan singkong menjadi mocaf, hingga pabrik fly ash bottom ash yang mengolah limbah PLTU menjadi material bangunan. Keberadaan lahan-lahan ketahanan pangan semakin memperkuat citra baru pulau tersebut sebagai tempat pembinaan yang berorientasi pada kemandirian.
Menteri Agus Andrianto menekankan prinsip “sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui” dalam menjalankan program-program pembinaan. Di satu sisi, pemerintah bertujuan untuk memperbaiki karakter dan keterampilan narapidana. Di sisi lain, program-program tersebut turut berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional serta peningkatan devisa negara melalui ekspor produk buatan narapidana. Dengan pendekatan ini, diharapkan narapidana tidak hanya selesai menjalani hukuman, tetapi juga siap kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan yang memadai.
Transformasi sistem pemasyarakatan di Indonesia kini semakin menunjukkan arah yang jelas. Dari yang awalnya berfokus pada penghukuman, kini beralih ke pendekatan pembinaan yang humanis dan produktif. Program Ketahanan Pangan dan UMKM di lapas-lapas seluruh Indonesia, terutama di Nusakambangan, menjadi contoh nyata bahwa pembinaan dapat dilakukan dengan cara yang memberdayakan. Narapidana bukan lagi dilihat sebagai beban, tetapi sebagai potensi sumber daya manusia yang dapat dikembangkan untuk kepentingan bersama.
Dengan terus meningkatkan kualitas dan cakupan program pembinaan, diharapkan semakin banyak narapidana yang mampu bangkit dan kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif. Langkah ini tidak hanya membantu individu, tetapi juga berdampak luas pada ketahanan pangan, perekonomian nasional, serta stabilitas sosial. Masa depan sistem pemasyarakatan Indonesia harus terus bergerak menuju pendekatan yang lebih manusiawi, inklusif, dan berorientasi pada pemberdayaan.
Data Riset Terbaru 2024-2025 menunjukkan bahwa program Ketahanan Pangan di lapas mengalami peningkatan signifikan dalam hal partisipasi narapidana, luas lahan yang dikelola, serta nilai ekonomi yang dihasilkan. Studi dari Lembaga Penelitian Kriminologi Nasional (LPKN) menyebutkan bahwa narapidana yang mengikuti program produktif cenderung memiliki tingkat residivisme yang lebih rendah dibandingkan dengan narapidana yang tidak terlibat dalam kegiatan serupa. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan berbasis keterampilan memiliki efek jangka panjang dalam pencegahan kejahatan.
Analisis Unik dan Simplifikasi: Program Ketahanan Pangan dan UMKM di lapas sebenarnya adalah bentuk investasi sosial jangka panjang. Alih-alih hanya memandang narapidana sebagai pelaku kejahatan, pemerintah kini memilih untuk melihat mereka sebagai manusia yang masih memiliki potensi untuk berkembang. Dengan memberikan akses terhadap pelatihan dan peluang ekonomi, narapidana diberi kesempatan untuk memperbaiki diri sekaligus berkontribusi bagi bangsa. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi beban negara, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang dapat dirasakan secara luas.
Studi Kasus: Lapas Kelas I Cirebon mencatat keberhasilan besar dalam program coir net. Dari awalnya hanya sebagai kegiatan sampingan, kini produk tersebut diekspor secara rutin ke Korea Selatan. Para narapidana yang terlibat dalam produksi coir net tidak hanya mendapatkan penghasilan, tetapi juga keterampilan yang dapat digunakan setelah bebas. Beberapa di antara mereka bahkan berencana melanjutkan usaha serupa di luar lapas. Ini adalah contoh nyata bagaimana pembinaan berbasis keterampilan dapat mengubah hidup seseorang.
Infografis Singkat:
- 12.146 narapidana terlibat dalam program Ketahanan Pangan
- 4.424.101 meter persegi lahan dikelola
- Rp 905.284.228 total premi yang diperoleh
- 13 jenis produk diekspor ke 11 negara
- 23.560 narapidana terlibat dalam produksi ekspor
- 3 negara tujuan ekspor utama: Spanyol, Korea Selatan, Belgia
Transformasi sistem pemasyarakatan melalui program Ketahanan Pangan dan UMKM membuktikan bahwa pendekatan humanis dan produktif mampu menghasilkan dampak positif yang luas. Dengan terus mengembangkan program-program serupa, Indonesia dapat membangun generasi mantan narapidana yang tidak hanya bebas dari penjara, tetapi juga bebas dari kemiskinan dan ketergantungan. Mari dukung upaya ini sebagai bagian dari pembangunan bangsa yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.