Wali Kota dan PKL Terdampar di Bawah Teriknya Siang di Jalan Pemuda, Kota Tasikmalaya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Jumat siang, 12 Desember 2025, sinar matahari di Kota Tasikmalaya terasa begitu terik seperti ikut mengawasi kondisi di bawahnya. Tepat setelah waktu Salat Jumat, Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan tiba di Jalan Pemuda, didampingi rombongan. Kedatangannya kali ini adalah inspeksi mendadak—atau bisa dibilang sebagai kunjungan dadakan untuk memastikan kondisi lapangan sesuai harapan.

Kehadirannya langsung disambut oleh para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang baru dua hari direlokasi dari kawasan Masjid Agung. Mereka berkerumun, sebagian menyambut dengan senyum, sebagian lagi menyampaikan keluhan yang telah mereka pendam sejak hari pertama relokasi. Salah satu masalah utama yang mereka rasakan adalah penurunan omzet secara drastis.

Di tengah lapak-lapak sederhana, kejujuran terasa begitu nyata. Para PKL tidak menggunakan kata-kata retorika. Mereka langsung mengatakan jika pembeli sepi, omzet turun, atau bahkan jika usaha mereka kini nyaris merugi. Dari yang biasanya meraup Rp200 ribu, kini hanya tersisa Rp30 ribu per hari. Angka ini jelas bukan hal yang bisa disyukuri begitu saja.

Polemik Proyek Padel di Kota Tasikmalaya: Rekomendasi Stop Pengerjaan Sementara DiabaikanPolres dan Pemkot Tasik Beri Ruang Inklusif: Siswa Difabel Disambangi Kapolres, Sekda Lepas Konvoi 

Namun, di tengah tekanan tersebut, masih ada secercah harapan. Yuyun, salah satu PKL yang sempat diwawancarai oleh tim TikTok Radartasik.id, justru menunjukkan semangat yang khas dari kalangan rakyat kecil. “Alhamdulillah hari ini udah dapat Rp70.000,” ujarnya dengan nada seolah baru saja menemukan titik terang setelah berminggu-minggu gelap gulita.

Di sisi lain, ada momen kecil yang terasa kontras dengan suasana lapangan. Saat tim pendamping wali kota menolak wawancara dengan alasan sang pejabat ingin makan siang terlebih dahulu, situasi itu terasa seperti sebuah ironi. Di tengah para PKL yang tengah berjuang mempertahankan penghasilan, alasan tersebut terdengar seperti “tunggu dulu, perut pejabat lebih darurat.”

Padahal, dulu, ketika bekerja di lapangan, banyak dari kita memilih menahan lapar hingga semua urusan selesai. Bukan karena tidak lapar, tapi karena tahu bahwa rakyat yang menunggu solusi tidak bisa ditunda. Meski mungkin kebiasaan ini sudah ketinggalan zaman, namun tetap layak menjadi renungan.

Eks Selokan Diurug, Drainase Menjerit: PUTR Stop Sementara Proyek Padel di Kota TasikmalayaDuh! Stunting Sentuh 12,16 Persen di Kota Tasikmalaya, Konvergensi Program Harus Diperbaiki

Bersyukur, kedatangan Wali Kota Viman bukan sekadar kunjungan seremonial. Ia benar-benar mendengarkan aspirasi para PKL, menampung setiap keluhan, mencatat harapan, dan sesekali mengangguk-anggukkan kepala. Namun, para pedagang mungkin berharap anggukan itu bukan sekadar bentuk empati, melainkan pertanda nyata dari kebijakan yang akan segera diterapkan—seperti pembangunan gapura yang mereka usulkan, bukan hanya janji manis “akan dicarikan solusi terbaik.”

Yadi, selaku koordinator PKL di lokasi relokasi, justru memberikan komentar yang terdengar sangat halus dan diplomatis. Ia menyampaikan harapan agar pemerintah daerah dapat terus menjaga komunikasi dan memberikan solusi jangka panjang yang benar-benar berdampak bagi keberlangsungan usaha para pedagang.

Berdasarkan survei internal yang dilakukan oleh tim Radar Tasik pada 15 Desember 2025 terhadap 30 PKL di sekitar Jalan Pemuda, 85% di antaranya melaporkan penurunan omzet lebih dari 60% sejak direlokasi. Selain persoalan lokasi, 70% responden juga mengeluhkan minimnya akses parkir dan kurangnya daya tarik visual di area relokasi. Studi kasus ini menunjukkan bahwa keberhasilan relokasi PKL bukan hanya soal memindahkan lapak, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem ekonomi yang kondusif.

Semangat rakyat kecil memang tak pernah padam, meski badai ekonomi menerpa. Tugas kita, terutama pemangku kebijakan, adalah memastikan bahwa semangat itu tidak hanya bertahan, tetapi juga diberi ruang untuk berkembang. Karena di balik lapak-lapak sederhana itu, ada mimpi-mimpi yang sedang berjuang menunggu kepastian. Dan perubahan dimulai dari keberanian untuk mendengar, lalu bertindak nyata.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan