Data Terbaru Korban Jiwa Bencana Alam di Sumatera: Sumatera Utara 217 Orang, Aceh 96 Orang, Sumatera Barat 129 Orang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru mengenai korban bencana banjir dan longsor di Sumatera. BPBD mencatat adanya peningkatan jumlah korban meninggal maupun hilang.

Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan bahwa jumlah korban jiwa di Sumatera Utara mencapai 217 orang. Ia menjelaskan bahwa dalam proses evakuasi hari ini, banyak jenazah ditemukan di wilayah Tapanuli Selatan. “Untuk Sumut, korban meninggal dunia berjumlah 217 jiwa, sedangkan yang masih dalam pencarian berjumlah 209 orang,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers, Minggu (30/11/2025).

Untuk wilayah Aceh, total korban tewas mencapai 96 orang, dan 75 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Data korban tersebar di 11 kabupaten/kota. “Korban jiwa di Aceh menjadi 96 dan 75 orang masih hilang. Wilayah terdampak dengan korban jiwa ada di 11 kabupaten/kota, namun secara keseluruhan kabupaten/kota terdampak berjumlah 18,” jelasnya.

Di Sumatera Barat, jumlah korban meninggal mencapai 129 orang, sementara 118 orang lainnya masih dalam pencarian. Suharyanto menyatakan bahwa kondisi Sumatera Barat relatif lebih baik dibandingkan Aceh dan Sumatera Utara. “Korban jiwa 129, hilang 118, dan 16 luka-luka,” tambahnya.

Menko PMK Pratikno mengungkapkan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam menangani bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Prabowo memerintahkan mobilisasi seluruh kekuatan nasional untuk penanganan darurat di tiga provinsi tersebut. “Presiden memerintahkan penambahan kekuatan nasional, fokus pada penanganan tanggap darurat secepat mungkin. Evakuasi, logistik, perlindungan pengungsi, tenaga kesehatan, serta pemulihan infrastruktur transportasi dan komunikasi harus segera dikawal di lapangan,” ujar Pratikno saat memimpin Rakor Penanganan Darurat Bencana di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, Minggu (30/11).

Pemerintah telah menyalurkan bantuan dan memulihkan komunikasi di wilayah terdampak di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Proses evakuasi juga dipercepat. “Logistik terus mengalir dari pemerintah maupun lembaga non-pemerintah. Distribusi akan terus bertambah dan diperluas ke berbagai titik. Seluruh kekuatan nasional dikerahkan untuk mempercepat tanggap darurat dan segera memulihkan keadaan,” jelasnya.

Pemerintah kini menyiapkan skenario rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana, sambil tetap memprioritaskan penanganan tanggap darurat. “Kami juga menyiapkan skenario pemulihan, termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Tentu fokus utama tetap pada tanggap darurat, namun tahapan pemulihan juga harus disiapkan,” ujarnya.

Pemerintah tengah mempercepat penyediaan hunian sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Pratikno menekankan pentingnya percepatan penanganan darurat di lapangan. “Beberapa hal perlu diprioritaskan. Saya telah berdiskusi dengan Menko Infrastruktur mengenai pemulihan cepat, termasuk hunian sementara,” ujarnya. “Kami akan percepat penanganan darurat di lapangan, bukan hanya pengerahan sumber daya, tetapi juga sinergi antarpihak,” tambahnya.

Pratikno juga menyampaikan apresiasi kepada aparat dan relawan yang bekerja keras di lapangan. “Terima kasih kepada personel TNI, Polri, dan pemda yang bekerja keras menyediakan hunian sementara. Rehabilitasi dan rekonstruksi juga akan segera dilakukan,” ucapnya.

Data Riset Terbaru:
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Desember 2025, potensi bencana hidrometeorologi di Sumatera masih tinggi akibat musim pancaroba. Curah hujan ekstrem berpotensi memicu banjir bandang dan longsor susulan, terutama di wilayah dengan kondisi tanah labil dan deforestasi luas. Studi Universitas Gadjah Mada (2025) menunjukkan peningkatan risiko bencana sebesar 35% di daerah aliran sungai (DAS) Tapanuli dan Aceh akibat perubahan tata guna lahan.

Analisis Unik dan Simplifikasi:
Bencana kali ini tidak hanya dipicu oleh faktor alam, tetapi juga oleh kerusakan ekosistem akibat aktivitas manusia. Deforestasi dan alih fungsi lahan pertanian menjadi area komersial meningkatkan vulnerabilitas wilayah. Perlu pendekatan holistik yang menggabungkan penanganan darurat, pemulihan ekologis, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam mitigasi bencana.

Studi Kasus:
Di Tapanuli Selatan, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi 45 korban tertimbun longsor menggunakan alat berat dan anjing pelacak. Proses evakuasi terkendala akses jalan yang terputus dan cuaca ekstrem. Sementara itu, di Aceh, komunitas lokal mendirikan posko darurat berbasis desa, yang mampu menampung 200 pengungsi dengan dukungan logistik dari lembaga kemanusiaan nasional.

Infografis (Teks):

  • Total Korban Meninggal: 442 orang
    • Sumatera Utara: 217 jiwa
    • Aceh: 96 jiwa
    • Sumatera Barat: 129 jiwa
  • Korban Hilang: 392 orang
  • Luka-luka: 16 orang
  • Wilayah Terdampak: 18 kabupaten/kota di 3 provinsi

Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, TNI/Polri, relawan, dan masyarakat untuk mempercepat pemulihan. Mari jadikan bencana ini sebagai momentum untuk memperkuat sistem peringatan dini, rencana evakuasi, dan pelestarian lingkungan. Solidaritas dan gotong royong adalah kunci utama dalam menghadapi ujian ini. Bersama, kita bangkit kembali dengan lebih tangguh.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan