Inisiatif Dekarbonisasi Langkah Nyata, SAF Menjadi Solusi Masa Depan Aviasi Nasional

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Industri penerbangan sedang mengalami perubahan besar dalam konteks transisi energi global. Dengan semakin meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim dan kebutuhan efisiensi karbon, Indonesia mengambil langkah nyata untuk mengukuhkan kebijakannya dalam penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Inisiatif ini mengukuhkan komitmen pemerintah untuk mendekarbonisasi industri penerbangan domestik, sambil memastikan keberlanjutan sektor transportasi udara yang vital bagi konektivitas di seluruh Nusantara.

Untuk mendorong perkembangan ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama Pertamina memainkan peran penting melalui penguatan regulasi, kolaborasi antar sektor, dan penerapan standar internasional yang ketat. Upaya ini bertujuan tidak hanya untuk mengurangi emisi karbon dari kegiatan penerbangan, tetapi juga untuk memposisikan Indonesia sebagai pemasok utama SAF di Asia Tenggara. Hal ini didukung oleh potensi bahan baku lokal yang melimpah, seperti minyak jelantah dan limbah pertanian.

Dalam mendukung langkah ini, Kemenhub dan Pertamina telah menyusun roadmap SAF, mekanisme MRV (Monitoring, Reporting, dan Verification), serta penerapan skema CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) sesuai dengan standar Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). “Dengan sertifikasi yang memenuhi ketentuan Ditjen Migas dan ICAO CORSIA, serta insentif yang proporsional, adopsi SAF di dalam negeri dapat dipercepat,” kata Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Sokhib Al Rokhman.

Sokhib juga memastikan bahwa upaya dekarbonisasi sektor penerbangan akan terus diselaraskan dengan target penurunan emisi nasional serta standar global. Penggunaan SAF menjadi strategi utama untuk mengurangi emisi karbon tanpa mengganggu operasional penerbangan. Ini menjadi topik utama dalam Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) Forum 2025 dengan tema “Sustainability: Indonesia’s Emission Reduction Ambition and the Benefits of SAF”. Forum ini menggabungkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, maskapai penerbangan, industri pesawat, dan lembaga sertifikasi, untuk mendorong ekosistem penerbangan rendah emisi.

Dukungan dari industri global juga muncul. Country Manager Indonesia Cathay Pacific Airways, Tony Sham, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai pemasok SAF berbasis minyak jelantah, asalkan tantangan harga dan ketersediaan bahan baku dapat diatas. “Cathay Pacific menargetkan 10% penggunaan SAF pada 2030. Kolaborasi lintas pelaku menjadi kunci untuk mempercepat transisi ini,” katanya.

Sementara itu, Senior Managing Director Boeing, Malcom An, menilai bahwa kawasan Asia Tenggara memiliki sumber daya yang memadai untuk memproduksi SAF secara mandiri. “Minat untuk mengubah minyak jelantah dan limbah pertanian menjadi SAF terus meningkat. Kawasan ini bahkan berpotensi memproduksi lebih untuk diekspor,” tuturnya.

Pertamina, sebagai pemain utama industri energi nasional, memperkuat peranannya dalam pengembangan SAF. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menjelaskan bahwa melalui forum ini, Pertamina berupaya menjadi penggerak utama energi bersih untuk industri penerbangan. Pertamina telah membangun ekosistem terintegrasi untuk SAF, mulai dari pengumpulan minyak jelantah, proses produksi bioavtur, hingga distribusi kepada operator penerbangan. Ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi emisi karbon, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi sirkular yang memberdayakan masyarakat di sektor pengelolaan limbah.

Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi Pertamina untuk mendukung pencapaian Net Zero Emission 2060, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pionir penggunaan bahan bakar ramah lingkungan di kawasan Asia Pasifik. Pemerintah dan Pertamina optimistis bahwa percepatan penggunaan SAF akan menjadi langkah penting dalam menuju industri aviasi nasional yang hijau, efisien, dan berkelanjutan.

Transformasi ini tidak hanya tentang bahan bakar yang lebih bersih, tetapi tentang perubahan paradigma bahwa keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan. Langit Indonesia yang biru kini bukan hanya simbol kebebasan terbang, tetapi juga cerminan komitmen bangsa menjaga bumi tetap lestari.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan