WHO Memantau Tiga Obat Batuk Produksi India yang Dikaitkan dengan Kematian 21 Anak dan Menyebar ke Negara Lain

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pemerintah India menyarankan masyarakat untuk menghindari dua merk sirup batuk tertentu setelah kematian 21 anak di bawah umur lima tahun disebabkan oleh kontaminasi dietilen glikol (DEG) dalam produk tersebut. Data menunjukkan bahwa semua korban meninggal dalam rentang waktu satu bulan setelah mengonsumsi obat batuk Coldrif, yang terbukti mengandung DEG dalam konsentrasi hingga hampir 500 kali melebihi batas aman. Hasil pemeriksaan laboratorium pada 2 Oktober 2022 mengesahkan keberadaan zat beracun tersebut, memaksa pemerintah untuk segera melarang peredaran obat tersebut.

Setelah insiden itu, pemerintah di Gujarat dan beberapa wilayah lain mengeluarkan peringatan publik terkait dua produk obat batuk yang juga terkontaminasi DEG, yaitu Respifresh dan RELIFE. Ketidaksesuaian kadar DEG dengan standar keamanan dapat menyebabkan keracunan parah, kerusakan ginjal, gangguan saraf, bahkan kematian, khususnya pada anak-anak.

WHO telah mengkonfirmasi keberadaan tiga sirup batuk yang terkontaminasi tersebut. Meskipun belum ada bukti ekspor resmi, organisasi ini tetap membantah kemungkinan adanya distribusi tak resmi ke negara lain. Sumber kontaminasi masih dalam investigasi. “WHO sangat khawatir dengan kasus ini dan menyoroti kelemahan dalam regulasi pemeriksaan diethylene glycol dan ethylene glycol untuk produk obat domestik,” ungkap juru bicara WHO kepada Reuters.

Menurut peraturan, semua produsen obat di India harus menguji bahan baku dan hasil produksi setiap batch. Sejak 2023, ekspor sirup batuk juga harus melalui pengujian tambahan di laboratorium pemerintah, setelah insiden kematian lebih dari 140 anak di Gambia, Uzbekistan, dan Kamerun akibat sirup asal India. Sirup Coldrif diproduksi oleh Sresan Pharmaceutical Manufacturer dan hanya dijual di pasar lokal. Sementara itu, RELIFE (Shape Pharma) dan Respifresh (Rednex Pharmaceuticals) tercatat beredar di beberapa wilayah India, tetapi belum ada bukti keduanya diekspor ke luar negeri. Ketiga perusahaan belum memberikan tanggapan resmi. WHO masih menunggu konfirmasi resmi dari pemerintah India sebelum memutuskan apakah perlu mengeluarkan peringatan global terkait produk medis.

Sejak 2022, kasus serupa telah terjadi di Gambia, Uzbekistan, dan Kamerun, serta di India pada 2019, yang menewaskan 12 anak. Insiden berulang ini menimbulkan keraguan terhadap India sebagai produsen obat terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Cina. Industri farmasi India bernilai sekitar 50 miliar dolar AS, dengan lebih dari setengah pendapatannya berasal dari ekspor. India juga merupakan penyuplai utama obat generik ke Amerika Serikat, serta memenuhi lebih dari 90 persen kebutuhan obat di banyak negara Afrika.

Kasus kontaminasi obat batuk asal India mengingatkan kembali pentingnya pemantauan ketat dalam industri farmasi. Pemerintah dan organisasi internasional seharusnya bekerja sama untuk mengatasi masalah regulasi dan memastikan produk medis yang aman bagi masyarakat. Masyarakat juga harus lebih waspada dalam memilih dan mengonsumsi obat, terutama untuk anak-anak yang rentan terhadap bahaya kontaminasi.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan