Pemimpin Menilai Penurunan Nilai Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan sebagai Masalah Sementara

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespon penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta penurunan indeks saham setelah adanya perubahan jabatan menteri, termasuk di Kementerian Keuangan. Menurutnya, kondisi ini hanya sementara dan akan segera pulih.

Data RTI pada hari Selasa, 9 September 2025, menunjukkan IHSG ditutup pada level 7.628 poin, turun 138 poin atau 1,78%. Pada sesi perdagangan, indeks saham mencapai puncak 7.791 dan terendah 7.619 poin. Sementara nilai tukar dolar AS semakin kuat, ditutup pada level Rp 16.400-an. Menurut Bloomberg, kurs dolar AS mencapai Rp 16.481, naik 17.20 poin atau 1,05%.

“Situasi ini sementara. Kami memantau perkembangan, tapi jangan lupa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat,” ujar Airlangga di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, hari Selasa. Ia menambahkan bahwa kondisi serupa pernah terjadi saat peluncuran BPI Danantara, di mana nilai rupiah dan IHSG kemudian kembali stabil.

Airlangga menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh sentimen, bukan masalah fundamental. Dengan kebijakan yang tepat, pemerintah pasti dapat mengatasinya. Hal ini mirip dengan saat peluncuran BPI Danantara, di mana setelah turun sebentar, nilai kemudian naik kembali.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melakukan perubahan jajaran menteri dengan membentuk satu kementerian baru dalam Kabinet Merah Putih. Hal ini diumumkan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana Kepresidenan, Senin (8/9/2025).

Prasetyo menjelaskan bahwa pembentukan Kementerian Haji dan Umrah dilakukan setelah DPR dan pemerintah menyetujui Rancangan Undang-Undang Haji. Presiden telah menandatangani keputusan pembentukan kementerian baru serta menentukan menteri dan wakil menteri yang bertanggung jawab.

“Atas berbagai pertimbangan, masukan, dan evaluasi yang terus dilakukan oleh Presiden, maka sore ini diputuskan perubahan susunan Kabinet Merah Putih pada beberapa kementerian,” tutur Prasetyo. Perubahan ini meliputi lima kementerian, yaitu Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Keuangan, Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Koperasi, dan Pemuda serta Olahraga.

Dalam menghadapi fluktuasi ekonomi, stabilitas dan kebijakan yang bijak tetap menjadi kunci. Indonesia memiliki potensi yang kuat, dan dengan penanganan yang tepat, situasi saat ini akan segera pulih. Koalisi pemerintah dan dukungan publik akan menjadi faktor penting dalam meraih ketahanan ekonomi yang lebih kuat.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan