KPK Menangkap Korupsi Dana Papua, Lukas Enembe Bukan Pejabat Tersangka Sahaja

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

KPK tengah meneliti penggunaan dana yang seharusnya digunakan untuk mendukung operasional dan program peningkatan pelayanan kepala daerah serta wakil kepala daerah di Pemprov Papua. Dalam penyelidikan ini, tidak hanya Lukas Enembe, mantan Gubernur Papua, yang terlibat dalam tindak korupsi. Menurut informasi dari KPK, tindak pidana korupsi ini melibatkan berbagai pihak. Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menjelaskan bahwa korupsi tidak hanya dilakukan oleh Lukas Enembe, tetapi juga oleh pejabat lain di provinsi tersebut saat pelanggaran tersebut terjadi.

Dengan demikian, KPK akan meminta pertanggungjawaban dari semua pihak yang terlibat, meski perkara yang berkaitan dengan Lukas Enembe telah dihentikan karena dia telah meninggal dunia. Asep Guntur menjelaskan bahwa tujuan utama penegakan hukum ini adalah untuk memulihkan kerugian keuangan negara yang mencapai hampir satu triliun rupiah, khususnya terkait dengan penggunaan dana operasional.

Pada Selasa (21/10/2025), KPK memanggil Budi Hermawan, tukang cukur rambut langganan Lukas Enembe, untuk dimintai keterangannya sebagai saksi dalam kasus pengelolaan dana penunjang operasional dan program peningkatan pelayanan kedinasan. Budi Hermawan, yang merupakan seorang wiraswasta, dipanggil untuk memberikan informasi terkait dugaan suap yang melibatkan dana tersebut. Kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp 1,2 triliun, dengan dana operasional yang disalahgunakan mencapai Rp 1 triliun per tahun. Lukas Enembe diketahui telah membuat peraturan gubernur (pergub) khusus agar pelaksanaan pengeluaran dana tersebut terkesan legal, yang memudahkan dia untuk mengelabui pengawasan dari Kementerian Dalam Negeri.

Korupsi dana operasional yang dilakukan oleh Lukas Enembe menunjukkan betapa pentingnya pengawasan yang ketat terhadap penggunaan dana publik. Melalui peraturan yang dibuatnya sendiri, Lukas berhasil menyembunyikan pelanggaran selama bertahun-tahun, menimbulkan kerugian besar bagi negara. Kasus ini mengingatkan betapa mudahnya dana publik disalahgunakan tanpa pengawasan yang memadai. Cerita ini juga mengilustrasikan bagaimana pejabat publik dapat menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk menguntungkan diri sendiri, sementara mengorbankan kepentingan masyarakat.

Pelajaran utama dari kasus ini adalah pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penggunaan dana publik. Setiap warga negara harus berada di garis depan dalam memantau penggunaan dana tersebut, sehingga kasus-kasus seperti ini dapat dicegah. Semua pihak yang terlibat dalam pelanggaran harus dituntut hukum agar sistem keadilan bisa berjalan dengan adil dan efektif. Hanya dengan demikian, kerugian keuangan negara dapat diminimalisasi dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat dipulihkan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan