Kajian Sejarah Sumatera Selatan Sebagai Jaringan Perdagangan Internasional

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon ikut serta dalam acara peluncuran buku berjudul “Keramik Cina Temuan Sungai Musi Abad 7-19 Masehi” di Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatra Selatan, melalui jalur daring. Dalam kesempatan itu, Fadli menyampaikan pengakuan atas pengeluaran buku tersebut, yang menurutnya menjadi titik awal untuk penelitian lebih mendalam terkait dengan keramik-keramik yang ditemukan di sepanjang Sungai Musi. Buku ini tidak hanya mengupas tentang keramik dari Cina, melainkan juga meliputi temuan dari negara-negara seperti Thailand dan Vietnam.

Fadli menambahkan bahwa Sungai Musi bukan hanya sungai yang mengungkapkan budaya setempat, tetapi juga merupakan jalur perdagangan internasional yang aktif sejak berabad-abad. Hal ini terbukti dari keanekaragaman keramik yang ditemukan, termasuk dari berbagai dinasti seperti Han, Sung, Yuan, Ming, Qing, hingga era Republik. Interaksi perdagangan ini menunjukkan bahwa Palembang memainkan peran penting dalam jaringan global pada masa lampau.

Buku ini menjadi tambahan berharga dalam historiografi Sumatra Selatan, khususnya cerita besar tentang Sungai Musi. Proses penulisan dan penelitian buku ini dilakukan dari tahun 2015 hingga akhir 2023, dengan para peneliti mengidentifikasi dan merangkai temuan-temuan arkeologis secara cermat. Fadli juga menekankan pentingnya kerjasama antar-sektor, seperti antara pemerintah, akademisi, seniman, dan komunitas budaya di Sumatra Selatan, untuk menggali lebih dalam tentang sejarah Sungai Musi dan daerah lain.

Rektor Universitas Sriwijaya, Taufiq Marwa, juga memuji kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan dalam peluncuran buku ini, serta mengharapkan buku ini menjadi sumber motivasi dan pembelajaran bagi generasi saat ini. Akademisi Pidia Amelia, salah satu penulis buku, menjelaskan bahwa riset tentang keramik Sungai Musi dilakukan secara terus-menerus, termasuk koleksi di Rumah Kreatif Fadli Zon yang masih dikaji hingga saat ini.

Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kemenbud, Restu Gunawan, mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan buku ini sebagai bahan belajar dalam berbagai bidang seperti sejarah, arkeologi, dan tradisi. Acara peluncuran buku dihadiri oleh berbagai tokoh akademisi, sejarawan, dan budayawan, serta pejabat dari Kementerian Kebudayaan.

Data riset terbaru menyoroti bahwa temuan keramik Sungai Musi bukan hanya menunjukkan keanekaragaman budaya, tetapi juga mengukir jejak perdagangan internasional yang kaya. Studi kasus menunjukkan bahwa Sungai Musi bukan hanya sebagai sumber daya arkeologis, tetapi juga sebagai jembatan budaya yang menghubungkan berbagai peradaban.

Analisis unik dan simplifikasi: Perdagangan maritim yang terjadi di Sungai Musi sejak abad ke-7 hingga ke-19 Masehi menunjukkan bahwa Palembang bukan hanya pusat perdagangan lokal, tetapi juga global. Keramik dari berbagai dinasti Cina dan negara Asia Tenggara lainnya mengindikasikan interaksi budaya yang kaya. Bukti ini memperkuat pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas budaya untuk melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Indonesia.

Kesimpulan: Temuan keramik Sungai Musi tidak hanya membuka wawasan tentang sejarah perdagangan maritim, tetapi juga menginspirasi kami untuk melestarikan jejak budaya yang berharga. Mari kita terus menjaga dan mengembangkan warisan ini sebagai jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan