Penyelesaian Utang Kereta Cepat Sesuai Tolak Purbaya Menggunakan APBN

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Dengan menolak penggunaan APBN untuk menanggung utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memunculkan diskusi yang hangat terkait penyelesaian utang proyek ini. Rosan Perkasa Roeslani, CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), mengharapkan penyelesaian yang komprehensif melalui pengkajian yang dilakukan secara mendalam. Proses ini melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, serta koordinasi dengan China, karena proyek ini merupakan bagian dari program Presiden Xi Jinping.

Pembahasan utang Whoosh dilakukan dengan考虑到对中国的重要性,因为这是习近平主席时期的重要计划。 Rosan juga menekankan dampak positif yang akan diperoleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) jika utang ini dapat diselesaikan dengan baik. KAI, sebagai pemimpin konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan saham terbesar sebesar 60% di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), akan mendapat manfaat dari pelayanan kereta api yang lebih baik di masa depan.

Sementara itu, Purbaya menolak menggunakan APBN untuk menanggung utang Whoosh, dengan alasan bahwa Danantara sebagai holding BUMN sudah memiliki manajemen dan dividen sendiri. Penerimaan dividen BUMN sebelumnya dikelola Kementerian Keuangan melalui pos penerimaan negara bukan pajak (PNBP) berupa kekayaan negara yang dipisahkan (KND). Proyek KCJB mendapatkan pinjaman dari China Development Bank (CDB) sebesar Rp 6,98 triliun untuk menutup cost overrun atau bengkak proyek.

Penyelesaian utang proyek Whoosh memang tidak mudah, tetapi dengan kolaborasi yang baik antara semua pihak terlibat, solusi yang optimal pasti dapat ditemukan. Proyek ini bukan hanya tentang keuangan, tetapi juga tentang kemajuan infrastruktur dan keterkaitan antara Indonesia dan China. Marilah kita dukung proses ini dengan harapan bahwa proyek kereta cepat ini akan segera berjalan dengan lancar, menjadi tambahan yang berharga bagi pengembangan transportasi di Indonesia.

Dalam era transportasi modern, proyek seperti ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang konektivitas dan efisiensi. Kereta cepat Jakarta-Bandung memiliki potensi besar untuk mengubah cara kita berperjalanan, menghubungkan dua kota utama dengan cepat dan nyaman. Dengan penyelesaian utang yang tepat, proyek ini akan menjadi landasan bagi proyek-proyek infrastruktur lain di masa depan.

Baca Berita dan Informasi Finance lainnya di Finance Page

Tinggalkan Balasan