Turki Dispalkan Ahli Forensik ke Gaza untuk Meminta Jenazah Tawanan Israel

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pihak berwenang Turki telah mengirimkan 81 ahli pemulihan bencana ke wilayah Gaza saat terjadi perjanjian berhenti-tempoh. Beberapa di antaranya akan membantu mencari 19 mayat sandera yang masih belum ditemukan.

Kementerian Pertahanan Turki menyampaikan, seperti dilaporkan oleh AFP pada Jumat (17/10/2025), bahwa tim tersebut dibentuk oleh Otoritas Penanggulangan Bencana Turki (AFAD). “Tim yang terdiri dari 81 staf AFAD sekarang berada di sana,” kata sumber resmi.

Seperti yang disebutkan, satu unit spesialis akan bertugas untuk mencari dan mengidentifikasi mayat sandera. AFAD adalah lembaga pemerintah yang berfokus pada tanggap bencana dan berada di bawah Kementerian Dalam Negeri Turki. “Tugas mereka sudah jelas: membantu distribusi bantuan kemanusiaan, mencari mayat, dan memantau perjanjian berhenti-tempoh. Namun, belum ada rincian spesifik tentang pelaksanaan,” ujar sumber Kementerian Pertahanan.

Ketika ditanya apakah militer Turki dapat ikut serta dalam misi serupa, sumber tersebut menjelaskan bahwa hal tersebut “lebih cocok untuk lembaga sipil seperti AFAD”. Mereka menambahkan bahwa, secara teori, militer dapat melibatkan diri jika diperlukan. Para petugas AFAD sudah berpengalaman di daerah yang sulit, termasuk bertindak respons terhadap gempa besar di Turki, termasuk gempa di selatan negara tersebut pada Februari 2023 yang menewaskan lebih dari 53.000 jiwa.

AFAD telah melakukan misi penyelamatan dan distribusi bantuan di lebih dari 50 negara di lima benua dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di Somalia, Palestina, Ekuador, Filipina, Nepal, Yaman, Mozambik, dan Chad.

Israill sebelumnya menuduh Hamas tidak mematuhi kesepakatan penyerahan seluruh mayat sandera selama perjanjian berhenti-tempoh berlangsung. Dari 28 mayat yang masih ada di Gaza, Hamas hanya menyerahkan sembilan di antaranya. Satu mayat yang diserahkan ternyata bukan sandera, sehingga masih ada 19 mayat yang belum diklaim Hamas.

Hamas menyatakan sudah menyerahkan semua mayat yang dapat ditemukan sampai saat ini. Mereka mengakui membutuhkan waktu tambahan karena sebagian mayat terkubur di terowongan yang dihancurkan Israel, sementara lainnya tertimbun reruntuhan di Gaza. Brigade Ezzedine Al-Qassam, sayap militer Hamas, menyebutkan bahwa penyerahan lebih banyak mayat memerlukan alat berat dan peralatan penggalian yang perlu dibawa masuk ke Gaza, wilayah yang diblokade oleh Israel.

Pendekatan Turki dalam mengirim ahli bencana ke Gaza bukan hanya sebagai tanda dukungan kemanusiaan, tetapi juga menunjukkan komitmen internasional dalam menyelesaikan krisis yang berkepanjangan. Kerjasama seperti ini dapat menjadi teladan bagaimana negara-negara dapat begevent dalam menanggapi krisis global dengan solusi yang konstruktif.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan