Kontroversi Calon Perdana Menteri Jepang yang Kontra Konsep Work-Life Balance

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Calon pimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) dan kandidat utama untuk jabatan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menghadapi gemuruh kritikan masyarakat setelah menyatakan keinginannya untuk meninggalkan konsep “work-life balance” atau keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi. Pernyataannya ini diungkapkan setelah Takaichi meraih kemenangan dalam pemilihan kepemimpinan partai tersebut. Dia menyebutkan, “Saya akan membuat seluruh anggota partai bekerja keras serta mengorbankan waktu istirahat untuk mengerjakan tugas dengan maksimal.” Takaichi, dikenal sebagai figurnya politik yang kuat, menekankan kebutuhan reformasi di partai akibat jauhnya dukungan pemilih yang disebabkan oleh berbagai skandal.

Pernyataan Takaichi yang mengecam konsep “work-life balance” menuai protes keras dari Dewan Pembela Nasional Korban Karoshi. Mereka menuntut agar Takaichi mencabut pernyataan yang dianggap memaksa pekerja untuk berlebihan bekerja. Hiroshi Kawahito, pengacara yang mewakili keluarga korban karoshi, termasuk seorang birokrat pihak dalam negeri yang bunuh diri pada 2014, mengecam sikap Takaichi yang dianggap mempromosikan budaya kerja yang berbahaya. Di sisi lain, Menteri Kebijakan Anak-anak, Junko Mihara, membela Takaichi dengan menganggap ucapannya sebagai bukti komitmennya sebagai pemimpin partai.

Hingga saat ini, peluang Takaichi untuk menjadi Perdana Menteri wanita pertama Jepang terancam oleh retak dalam koalisi LDP. Partai Mitranya, Komeito, telah mengundurkan diri akibat kegagalan LDP dalam menangani skandal pendanaan politik. Tanpa dukungan Komeito, Takaichi akan kesulitan mendapatkan persetujuan parlemen untuk menjabat sebagai PM. Ia menyatakan akan berusaha keras untuk mendapatkan dukungan dari partai lain, seperti Partai Inovasi. Sementara itu, partai oposisi bersiap mempromosikan Yuichiro Tamaki sebagai kandidat alternatif.

Krisis politik ini terjadi dalam waktu dekat dengan serangkaian pertemuan diplomatik Jepang, termasuk KTT multilateral di Malaysia dan Korea Selatan serta kunjungan Presiden AS Donald Trump yang direncanakan pada akhir bulan ini. Berita pecahnya koalisi Takaichi juga memperkuat yen hingga 0,5% menjadi 152,38 per dolar AS, setelah sebelumnya menurun ke level terendah dalam delapan bulan. Investor khawatir mengenai dampak rencana belanja besar Takaichi terhadap ekonomi Jepang sebagai negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia.

Takaichi telah menunjukkan kemampuannya dalam meraih dukungan dalam partai, tetapi kontroversi mengenai pandangan kerja yang keras dan retak dalam koalisi membuat masa depannya sebagai pemimpin Jepang masih dipertanyakan. Sebuah tantangan besar bagi Takaichi adalah untuk memperbaiki citra LDP di mata publik dan membuktikan bahwa rencananya dapat memberikan manfaat bagi negara tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat. Masa depan politik Takaichi akan bergantung pada kemampuannya untuk menyatukan dukungan parlemen dan mengatasinya krisis yang sedang dihadapi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan