"Presiden Kazakhstan Bicara Soal Bahaya Perang Nuklir dan Pengaruhnya pada Perubahan Iklim di Kongres Astana"

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, dalam pidato di Kongres Pemimpin Agama Dunia dan Tradisional ke-VIII, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap meningkatnya konflik militer dan risiko perang nuklir di masa depan. Kongres ini, yang diadakan setiap tiga tahun sekali, bertema “Dialog Agama: Sinergi untuk Masa Depan”.

Tokayev memuji kehadiran pemimpin agama dari berbagai negara yang hadir dalam acara ini. Menurutnya, peran mereka semakin penting untuk menjaga ketertiban dunia. Dalam sambutannya di Palace of Independence, Astana, Rabu (17/9/2025), dia menganggap mereka sebagai utusan dunia yang berjuang untuk tujuan-tujuan yang baik.

Kazakhstan, katanya, telah lama berperan aktif dalam mempertahankan harmoni di antara berbagai budaya. Kebijakan luar negeri negara ini selalu mengutamakan dialog dan kerja sama. Tokayev membenarkan bahwa nilai-nilai universal seperti ini penting bagi semua bangsa.

Presiden Kazakhstan juga menegaskan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai bentuk konflik baru, mulai dari perang dagang, sanksi ekonomi, hingga risiko perang nuklir. Dia mengatakan risiko konflik nuklir semakin tinggi, dan pemikiran konfrontatif mulai meluas. Ketegangan sosial pun semakin meningkat.

Dalam situasi ini, Tokayev mengutamakan diplomasi konstruktif sebagai cara untuk mendorong dialog dan memperkuat kepercayaan di antara negara-negara. Dia berharap pemimpin agama dapat memainkan peran lebih besar dalam menghindari kekacauan global.

Tokayev juga menyebut berbagai inisiatif yang telah berhasil dijalankan oleh pemimpin agama untuk menjaga perdamaian, seperti Kongres Pemimpin Agama Dunia dan Tradisional, Dokumen Persaudaraan Manusia, dan Deklarasi Makkah. Menurutnya, agama dapat menjadi kekuatan pemersatu yang kuat jika bekerja bersama.

Selain itu, Tokayev juga menyentuh isu perubahan iklim. Dia menganggap bahwa perubahan iklim bukan hanya masalah ilmiah atau ekonomi, tetapi juga tantangan moral yang mendasar. Oleh karena itu, dia mengusulkan agar dalam kongres ini dibentuk dokumen bersama tentang peran pemimpin agama dalam menanggulangi perubahan iklim.

Di akhir pidato, Tokayev mengingatkan kembali asal muasal kongres pemimpin agama di Astana. Dia berharap mereka tetap komitmen dalam menjaga perdamaian dunia. Kedatangan mereka sebagai pemimpin agama ke Astana untuk kedelapan kalinya menunjukkan aspirasi bersama untuk menghadapi berbagai tantangan global.

Kazakhstan telah menunjukkan bahwa dialog dan kerja sama dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan berbagai budaya dan agama. Dalam menghadapi tantangan global seperti perang nuklir dan perubahan iklim, peran pemimpin agama semakin kritis. Meskipun tantangan semakin sulit, komitmen untuk persatuan dan harmonisasi harus terus dijaga. Dalam situasi seperti ini, kerja sama internasional dan dukungan moral melalui pemimpin agama dapat menjadi jembatan baru untuk menyatukan dunia.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan