Alasan Luar Angkasa Gelap Padahal Dekat dengan Matahari Menurut Sains

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Mengamati langit malam, baik langsung maupun lewat internet, memperlihatkan pemandangan seragam: kegelapan luar angkasa. Fenomena ini memunculkan teka-teki abadi bernama paradoks Olbers—mengapa alam semesta tampak gelap walau dipenuhi milyaran bintang bercahaya?

Awalnya, astronom Jerman Heinrich Olbers menduga adanya materi antar bintang seperti debu kosmis yang menyerap cahaya. Namun teori ini bertabrakan dengan hukum termodinamika pertama, sebab materi penyerap cahaya justru akan memancarkan panas dan cahaya kembali.

Baru di abad ke-20, misteri ini terungkap. Ekspansi alam semesta menyebabkan cahaya galaksi jauh bergeser ke spektrum tak kasat mata seperti inframerah atau gelombang radio. Tanpa atmosfer di ruang hampa, cahaya bintang tidak memiliki medium untuk dipantulkan.

Di Bumi, fenomena berbeda terjadi. Sinar matahari berinteraksi dengan partikel atmosfer, memicu hamburan cahaya biru berkat panjang gelombang pendeknya. Mars pun mengalami efek serupa walau lebih redup karena atmosfernya tipis.

Sebaliknya, benda langit tanpa atmosfer seperti Bulan memperlihatkan langit hitam permanen, seperti dokumentasi misi Apollo. Foto-foto itu membuktikan kegelapan langit tetap ada meski permukaan bulan diterangi matahari.

Penemuan terbaru menunjukkan bahwa 95% alam semesta terdiri dari materi gelap dan energi gelap yang tak memancarkan cahaya. Penelitian Teleskop James Webb mengungkap galaksi purba yang cahayanya “hilang” karena pergeseran merah ekstrem. Teori multiverse juga memunculkan spekulasi bahwa cahaya bintang mungkin “bocor” ke dimensi paralel.

Memahami kegelapan langit justru membuka jendela pengetahuan tentang hakikat alam semesta. Setiap kali menatap malam, kita sedang menyaksikan bukti dinamika kosmos yang tak kasat mata—sebuah pengingat bahwa yang tak terlihat seringkali menyimpan rahasia terbesar.

Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru

Tinggalkan Balasan