Pemeriksaan Dilakukan Terhadap 7 Penjahat Rumah Uya Kuya

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kepolisian telah menahan tujuh orang terlibat dalam insiden penjarahan rumah milik politikus PAN, Surya Utama yang lebih dikenal sebagai Uya Kuya. Tujuh individu tersebut saat ini sedang menjalani pemeriksaan yang lebih danseluruhnya masih berstatus saksi.

Menurut Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Alfian Nurrizal, “Ketujuh pelaku tersebut berasal dari beberapa daerah, termasuk tiga warga Duren Sawit dan empat lainnya dari Kota Bekasi serta Priok.” Pemeriksaan terhadap mereka masih berlangsung, dan belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

Paruh malam Sabtu, 30 Agustus 2025, massa menggelar aksi di rumah Uya Kuya yang terletak di Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. Polisi masih mempertimbangkan alasan di balik aksi tersebut. “Pendalaman kasus masih dalam tahap proses,” tambah Alfian.

Sementara itu, Uya Kuya mengakui bahwa rumahnya telah dijarah. Anggota DPR RI tersebut menyatakan ikhlas dengan kejadian tersebut. “Aku ikhlas saja, hanya sedih kucingku juga ikut menjadi korban,” ungkapnya. Uya juga menyatakan bahwa dirinya dan keluarganya aman.

Kejadian penjarahan rumah politik tersebut dipicu oleh protes masyarakat terhadap sikap dan tunjangan yang diperoleh anggota DPR, termasuk Uya Kuya. Sikapnya yang berjoget saat sidang tahunan pada 16 Agustus sebelumnya telah menuai kecaman.

Dalam pernyataan melalui Instagram, Uya meminta maaf kepada masyarakat. “Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh Indonesia atas apa yang telah terjadi. Saya akan lebih berhati-hati di masa depan dan berjanji untuk lebih baik lagi sebagai anggota DPR,” ujarnya. Dia juga meminta kesempatan kedua untuk membuktikan komitmennya.

Kasus ini mengingatkan betapa pentingnya transparansi dan tanggung jawab dari para pejabat publik. Seperti Uya Kuya, setiap politikus harus sadar bahwa setiap tindakan dapat memengaruhi citra dan kepercayaan masyarakat. Tetaplah siap untuk belajar dari kesalahan dan mengembangkan kecerdasan emosional dalam menghadapi kritik. Hanya dengan sikap jujur dan berkomitmen, kita bisa membangun kepercayaan yang lebih kuat dalam demokrasi di Indonesia.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan