Efek jangka panjang gas air mata menurut pakar pulmonologi

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Gas air mata mengandung berbagai bahan kimia seperti chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidene malononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzyl cyanide (CA), dan dibenzoxazepine (CR). Senyawa-senyawa tersebut dapat memengaruhi mata, kulit, serta sistem pernapasan. Terkait dengan organ pernapasan, gejala yang muncul bisa berupa rasa dada yang berat, batuk, sesak napas, dan bahkan gangguan pernapasan yang parah. Dalam situasi tertentu, memang mungkin terjadi kondisi darurat seperti respiratory distress.

Selain itu, paparan gas air mata juga bisa menyebabkan rasa terbakar di mata, mulut, dan hidung. Beberapa respon lainnya meliputi pandangan kabur, kesulitan menelan, luka bakar kimiawi, serta reaksi alergi. Pasien dengan riwayat asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) lebih rentan mengalami serangan sesak napas akut, yang dalam kasus ekstrem bisa memicu gagal napas.

Walaupun efek utama gas air mata biasanya muncul secara mendadak, dampaknya juga bisa berlanjut menjadi kronis, terutama jika paparan terjadi secara berkelanjutan, dalam dosis tinggi, atau dalam ruangan tertutup. Level bahaya gas air mata tergantung pada jumlah dosis yang terpapar. Semakin tinggi paparannya, semakin berbahaya efeknya. Eksposur juga dipengaruhi oleh tingkat kepekaan individu terhadap zat kimia dalam gas tersebut.

Faktor lain yang menjadi perhatian adalah lingkungan di mana paparan terjadi, apakah dalam ruangan tertutup atau terbuka, serta kondisi aliran udara. Angin kencang misalnya bisa memengaruhi seberapa cepat dan jauh gas menyebar.

Ketika terpapar gas air mata, langkah cepat untuk mencegah efek buruk adalah dengan segera meninggalkan area terpapar dan mencuci mata dengan air bersih. Pakaian yang terkena sebaiknya segera dihilangkan dan dibersihkan. Jika gejala berlanjut atau parah, segera mencari bantuan medis.

Dampak gas air mata tidak hanya sementara, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan jangka panjang, terutama bagi mereka dengan riwayat pernapasan yang rentan. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mengurangi risiko komplikasi.

Baca Berita dan Info Kesehatan lainnya di Seputar Kesehatan Page

Tinggalkan Balasan