Korut Marah: Presiden Korea Selatan Korsel Munafik

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Korea Utara memuji Korea Selatan karena menyebut Presiden baru Korea Selatan, Lee Jae Myung, sebagai seseorang yang berpotensi menipu. Perebutan ini bermula dari permasalahan tentang pencabutan senjata nuklir di Semenanjung Korea.

Menurut Thecuy.com, dengan didasari liputan dari AFP pada hari Rabu (27/8/2025), Pyongyang mengkritik Lee Jae Myung usai mengingatkan denuklirisasi di Semenanjung Korea pada kunjungannya ke Amerika Serikat tadi pekan ini. Menurut Pyongyang, Lee Jae Myung dipandang bersifat ganda akibat membicarakan denuklirisasi.

Sejak menjadi presiden pada Juni yang lalu, Lee Jae Myung berusaha memancing hubungan hangat dengan Korea Utara yang sudah memiliki senjata nuklir, dan berjanji untuk membangun kepercayaan militer dengan Pyongyang.

Korea Utara menegaskan, mereka tidak tertarik untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Selatan, yang merupakan sekutu keamanan regional utama Amerika Serikat.

Saat berbicara di forum Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) di Washington DC, Lee Jae Myung menyebut bahwa aliansi Korea Selatan dan Amerika Serikat akan “ditingkatkan ke level global” ketika “ada jalan menuju denuklirisasi, perdamaian, dan koeksistensi di Semenanjung Korea.”

Sejak pertemuan puncak yang gagal dengan Washington DC pada tahun 2019, Pyongyang sudah sering menegaskan tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklirnya. Bahkan, Korea Utara sudah mendeklarasikan diri sebagai negara nuklir yang “tidak dapat diubah.”

Korean Central News Agency (KCNA), kantor berita resmi Korea Utara, menuduh Lee Jae Myung “bermain-memain dengan niat untuk memulihkan hubungan” dengan Korea Utara, namun telah mengungkapkan “wajah aslinya sebagai orang yang konfrontatif.” KCNA juga menyebut Lee Jae Myung “munafik” melalui pernyataan terbarunya tersebut.

KCNA mengemukakan bahwa denuklirisasi yang diajukan oleh Lee Jae Myung “hanyalah sebuah ilusi yang naif, seperti berusaha menangkap awan yang melayang di langit.” Setelah bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba di Tokyo pekan lalu, Lee Jae Myung mengungkapkan bahwa kedua negara, yang merupakan sekutu keamanan Amerika Serikat, telah “menegaskan kembali komitmen bersama untuk denuklirisasi sepenuhnya di Semenanjung Korea.”

Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, menyatakan pada hari Rabu (27/8) bahwa Korea Utara akan “tetap kuat pada pendirian untuk tidak meninggalkan senjata nuklir, martabat, dan kehormatan negaranya.” Dalam pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada Senin (25/8), Lee Jae Myung meminta Trump untuk membantu mewujudkan perdamaian antara Korea Selatan dan Korea Utara. Trump diketahui sering mengangkat hubungan pribadinya dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

“Satu-satunya orang yang dapat membuat perjalanan adalah Anda, Tuan Presiden,” kata Lee Jae Myung kepada Trump. “Jika Anda menjadi pembawa damai, maka saya akan membantu Anda dengan menjadi penggerak,” serunya.

Dalam pertemuan dengan Lee Jae Myung, Trump mencatat bahwa dirinya penuh harap untuk bisa bertemu kembali dengan Kim Jong Un, kemungkinan pada akhir tahun ini. Selama masa jabatan pertamanya, Trump sudah tiga kali bertemu Kim Jong Un, termasuk pertemuan di Hanoi yang membahas denuklirisasi namun gagal mencapai kesepakatan.

Hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan terus merkah dan menderu, memunculkan argumen politik yang menyinggung. Permasalahan denuklirisasi tidak hanya menjadi perhatian regional tetapi juga global, terlepas dari apa yang ingin dicapai. Pelucutan senjata nuklir di Semenanjung Korea tetap menjadi tantangan besar yang harus ditangani dengan bijak. Jangan hanya bergantung pada pelakhiran politik, tetapi juga pada keyakinan sama untuk menciptakan damai yang tahan lama.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan