Meningkatkan Ketergantungan pada GenAI di Bidang Pendidikan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah mengungkapkan kesan penggunaan Generative Artificial Intelligence (GenAI), khususnya ChatGPT, terhadap kognisi manusia. Dalam studi dengan judul “Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing Task” yang diterbitkan oleh Kosmyna et al. (2025), ditemukan dampak yang mengkhawatirkan. Walaupun hasil ini tidak begitu mengejutkan, mengingat ada studi sebelumnya yang sudah membahas efek negatif penggunaan teknologi ini (Bogost, 2024; Lee, 2023; Lo, 2023).

Pemberitaan yang ramai di berbagai media menunjukkan ketakutan serius terhadap dampak jangan-jangan GenAI menimbulkan terhadap kehidupan manusia. Teknologi yang dipandang sebagai pendorong kemajuan justru dicemar dengan dugaan bisa menggoyahkan eksistensi manusia sendiri, sesuai dengan peringatan Yuval Noah Harari dalam buku Nexus (2024). Ketergantungan yang berlebihan terhadap GenAI bahkan bisa memasukkan manusia ke dalam cengkeraman perbudakan teknologi. Menteri Pendidikan Abdul Mu’ti pun pernah membahas hal ini pada kuliah umum di Universitas Negeri Semarang, menekankan bahwa penggunaan berlebihan GenAI malah merosotkan kreativitas dan kualitas berpikir.

Ketika sistem AI mengambil alih tugas-tugas manual yang seharusnya dilakukan manusia, individu banyak yang kehilangan kemampuan dasar mereka. Dunia pendidikan harus tanggap cepat terhadap tantangan ini. Di tengah semakin menariknya kecanggihan AI, pendidikan diharapkan tetap berperan sebagai pelindung utama dalam mengembangkan potensi manusia secara menyeluruh.

Keterlibatan manusia dalam teknologi otomatisasi tidak pernah berubah dari masa ke masa. Menurut Sheridan dan Verplanck (1978), ada sepuluh level otomatisasi yang menggambarkan peran mesin dalam mengambil keputusan, mulai dari tingkat 1 (tanpa bantuan mesin sama sekali) hingga tingkat 10 (mesin beroperasi otonom tanpa campur tangan manusia). Semakin tinggi tingkat otomatisasi, semakinelow keterlibatan manusia.

Contoh sederhananya adalah penggunaan GPS. Awalnya kita bergantung pada ingatan dan baca peta, tetapi setelah beberapa kali tersesat, kita akhirnya tergiur untuk memaksakan diri bergantung pada sistem navigasi ini. Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi bisa mengurangi keterampilan kognitif kita secara perlahan.

Hal serupa terjadi dalam proses belajar. Ketika pertama kali menggunakan ChatGPT untuk mencari inspirasi menulis esai, mungkin kita hanya ingin mendapatkan gagasan. Namun, ketika hasil yang dihasilkan oleh AI terkesan lebih baik dari tulisan kita sendiri, muncul rasa minder, dan akhirnya kita menjadi malas untuk menulis sendiri. Akibatnya, kemampuan menulis menurun karena kita terbiasa menyerahkan tugas sepenuhnya pada mesin.

Tatapan semacam ini bukan hal baru. Sebelum GenAI, praktik perjokian juga sudah umum dalam skripsi, ujian masuk perguruan tinggi, dan tes bahasa Inggris. Perbedaan utamanya adalah GenAI menjadi pengganti manusia dalam praktik perjokian ini, yang menimbulkan efek yang lebih parah karena ketergantungan yang semakin besar.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan peningkatan sikap “appropriate reliance” atau ketergantungan yang tepat terhadap teknologi. Menurut Lee dan See (2004), ini meliputi “calibrated trust” (kepercayaan yang terkalibrasi) dan “situational awareness” (kesadaran situasional). Prinsip ini memungkinkan manusia tetap memegang kendali dalam memanfaatkan teknologi dengan optimal.

Dalam proses kreatif seperti penulisan buku, penulis tetap menjadi pusat perhatian meskipun dibantu oleh editor, desainer layout, dan ilustrator. Bantuan ini malah meningkatkan kualitas karya, bukan menghapus kontribusi penulis. Prinsip yang sama bisa diterapkan pada GenAI—bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk mendukung proses berpikir dan menciptakan.

Penggunaan GenAI yang berlebihan akan mengakibatkan hilangnya rasa kepemilikan dan pencapaian atas karya. Padahal, teknologi harus ada untuk memperbaiki hasil kerja, bukan mengambil alih sepenuhnya. Sebagai contoh, Grammarly membantu memperbaiki tata bahasa, bukan menulis tulisan secara keseluruhan.

Dalam konteks pendidikan, penggunaan GenAI yang tak terkontrol memang bisa merusak daya kritis siswa, seperti yang ditunjukkan dalam penelitian MIT. Hal ini terjadi jika siswa hanya menyalin hasil dari GenAI tanpa memahami atau meninjau ulang. Namun, menurut Nataliya Kosmyna, penggunaan GenAI akan lebih berguna jika penulis diberikan waktu untuk mendalami topik dan mengumpulkan ide terlebih dahulu sebelum memanfaatkan alat ini, seperti yang diakui dalam artikel Brain Activity Is Lower for Writers Who Use AI. What That Means for Students.

Oleh karena itu, sistem penilaian sekolah dan perguruan tinggi perlu direformasi untuk tetap relevan di era AI. Guru dan dosen harus merancang penilaian yang lebih maju dari model tradisional. Jika penilaian hanya berupa esai tertulis, siswa akan lebih cenderung mengandalkan ChatGPT. Di pihak lain, jika pengajar juga mengandalkan AI untuk menilai, proses belajar menjadi kosong—tidak ada lagi interaksi bermakna antara siswa dan guru.

Praktik perjokian masa lalu setidaknya masih melibatkan pembacaan referensi dan persiapan untuk sidang, meskipun tetap tidak direkomendasikan. Dalam konteks AI, keterlibatan siswa bisa jauh lebih minim jika tidak diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, langkah-langkah penting yang bisa dilakukan antara lain: pertama, ubah desain penilaian menjadi berbasis proyek atau masalah, yang mendorong penggunaan kemampuan berpikir tinggi; kedua, tambahkan penilaian lisan seperti wawancara untuk mengurangi ketergantungan siswa; dan ketiga, guru dan dosen perlu merancang rubrik penilaian yang menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar penguasaan materi.

GenAI dalam pendidikan tidak bisa dihindari. Yang diperlukan adalah kreativitas dan kebijakan dari para pendidik untuk merancang kembali model pembelajaran dan penilaian secara lebih bermakna. Larangan penggunaan AI tidak akan berhasil karena siswa bisa menggunakannya secara diam-diam, dan alat pendeteksi AI juga masih belum sempurna (Dalalah & Dalalah, 2023; Liang et al., 2023). Jadi, pendekatan yang lebih efektif adalah mendidik siswa untuk menggunakan GenAI dengan bijak dan bertanggung jawab.

Teknologi AI bukan musuh yang harus kita takuti, tetapi sekutu yang bisa meningkatkan kualitas hidup kita. Kunci suksesnya terletak pada cara kita menggunakannya dengan bijak.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Satu pemikiran pada “Meningkatkan Ketergantungan pada GenAI di Bidang Pendidikan”

  1. Wah, jadi tugas kuliah sekarang tinggal minta tolong AI aja ya? Enak banget, nggak perlu mikir keras lagi. Kira-kira besok dosennya minta kita bikin AI sendiri nggak ya buat ngerjain tugasnya? 🤔

    Balas

Tinggalkan Balasan