Lima Fakta tentang Skandal Duka Tersembunyi di Bogor

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Terdapat seorang wanita yang identitasnya disembunyikan dengan inisial MR, menjadi korban pencopetan saat sedang berolahraga di jalur pedestrian sistem satu arah (SSA) Jalan Jalak Harupat, Kota Bogor. Ponsel korban hilang setelah suara musik di earphone tiba-tiba menghilang, menimbulkan trauma bagi MR yang mengalami insiden itu pada Sabtu (16/8/2025) pagi. Akibatnya, Polresta Bogor Kota segera memulai penyidikan dan berhasil menangkap para pelaku dalam waktu kurang dari satu pekan.

Kompol Aji Riznaldi, Kasat Rekrim Polresta Bogor Kota, menjelaskan bahwa ketiga pelaku ditangkap di rumah masing-masing setelah MR melaporkan kejadian. Kronologis penangkapannya dimulai dari lapuran MR pada 16 Agustus, lalu pada malam harinya Polresta Bogor Kota berhasil menangkap tersangka A di kediamannya. Dari A, tim penyelidik kemudian berhasil mengungkap dan menangkap dua tersangka lainnya, yakni R dan I.

Para pelaku telah memfokuskan operasi pencopetan di jalur SSA dan Lapangan Sempur. Mereka memanfaatkan Cahaya yang tidak terlalu terang dan padatnya aktivitas warga untuk target mereka. Aji menjelaskan, “A, R, dan I khusus beroperasi di wilayah SSA dan Sempur.” Hal ini mengungkap bahwa ada dua kelompok pencopet yang berhasil ditangkap, masing-masing dengan wilayah operasi yang berbeda.

Komplotan pencopet yang beraksi di Bogor terbagi menjadi dua kelompok. Salah satu kelompok beroperasi di jalur SSA dan Lapangan Sempur, sementara kelompok lainnya aktif di wilayah Stasiun Bogor dan sekitarnya. Aji menjelaskan bahwa kelompok pertama, yang terdiri dari Romi, Iwan, dan Anto, bertindak di wilayah SSA dan Sempur. Sementara itu, kelompok kedua, yang meliputi Febri Sidabutar dan Imam Syafei, memilih wilayah Stasiun Bogor sebagai lokasi kejahatan mereka. Total, enam tersangka telah ditangkap dari kedua kelompok ini.

Warga yang sedang beraktivitas olahraga atau pulang kerja di SSA atau Stasiun Bogor menjadi target utama kelompok pencopet. Modus operandi mereka melibatkan pembukaan ritsleting tas korban untuk mencuri barang berharga seperti ponsel. Terungkap pula bahwa kedua kelompok memiliki penadah untuk menjual barangan hasil curian. Aji menyebutkan adanya penadah spesialis untuk handphone Android dan iPhone, menunjukkan tingkat organisasi yang cukup matang dalam kejahatan ini.

Polresta Bogor Kota telah membongkar dua kelompok pencopet yang telah beroperasi selama setahun di berbagai lokasi. Keduanya terlibat dalam 14 laporan pencopetan yang masuk ke Polres. Pelaku khususnya menargetkan orang-orang yang sedang beraktivitas olahraga di SSA atau pulang kerja di Stasiun Bogor. Modus pencopetan mereka dilakukan dengan membuka ritsleting tas korban untuk mencuri barang berharga.

Pencopetan di Bogor telah menjadi masalah yang serius, terutama di wilayah SSA dan Stasiun Bogor. Kejahatan ini menimbulkan ketakutan di kalangan warga yang sering beraktivitas di tempat-tempat tersebut. Kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa upaya penegakan hukum oleh Polresta Bogor Kota menunjukkan bahwa kejahatan bisa dikurangi dengan kerja sama dan ketelitenan dalam penyelidikan. Masyarakat dihimbau untuk meningkatkan kesadaran akan lingkungan sekitar dan selalu waspada terhadap modus pencopet yang terus berkembang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan