Gandaria Berubah Total, Sampah Tidak Berpola

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Penghunibda di Gandaria, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, merasakan kebahagiaan karena pembangunan Jembatan Antar Kampung (JAK) Gandaria yang telah dilengkapi dengan sistem buka-tutup (bascule). Jembatan ini dianggap lebih kuat dan modern serta berpotensi mengurangi risiko banjir.

Menurut Ratna, seorang warganegara berusia 45 tahun, jembatan lama menimbulkan kegagalan karena struktur yang rapuh dan sangat goyang saat dilalui kendaraan. Oleh karena itu, pemantauan dari warga telah mengajukan permintaan untuk membangun jembatan baru guna menghindari bahaya.

Ratna juga menjelaskan bahwa jembatan tua menjadi penyebab banjir karena banyaknya sampah yang tersangkut pada struktur penyangga di bawahnya, sehingga mengganggu aliran air.

Penumpukan sampah di sekitar jembatan lama menyebabkan air menjadi tersumbat, memicu banjir di kawasan tersebut.

Jembatan baru, yang tidak memiliki penyangga bawah, diharapkan dapat memastikan aliran air berjalan lancar tanpa terhalang sampah.

Selain itu, keberadaan sistem buka-tutup diharapkan memudahkan masuknya alat berat (backhoe) untuk membersihkan lumpur dan sampah di kali, terutama setelah musim hujan.

Wati (35) mengakui kepuasan terhadap jembatan baru tersebut. Ia berharap dengan adanya jembatan ini, wilayah setempat tidak lagi tergenang banjir karena aliran air yang lebih lancar.

Sebelumnya, jembatan yang terbuat dari beton menjadi tempat penyangkalan sampah di bagian besinya, yang membuat aliran air tersendat dan banjir terjadi. Namun, sejak jembatan baru dibangun, sampah tidak lagi tersangkut dan aliran air berjalan lancar.

Jembatan jenis bascule ini telah diusulkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno. Tujuan utamanya adalah memudahkan proses normalisasi sungai di ibu kota.

Rano menjelaskan bahwa salah satu kendala dalam pengerukan sungai di Jakarta adalah kesulitan alat berat seperti backhoe untuk mencapai lokasi yang ditargetkan. Hal ini disebabkan oleh adanya jembatan permanen yang menghalangi akses.

Terkait masalah tersebut, Rano sangat mendukung pembangunan jembatan buka-tutup agar dapatclosing dipenuhi dengan lebih efisien.

Jembatan permanen membuat proses pemindahan alat berat menjadi kompleks. Dengan adanya sistem buka-tutup, normalisasi sungai diharapkan lebih mudah dan efisien.

Menurutnya, kebanyakan jembatan di Jakarta tidak dapat dilalui flexibel. Alat berat harus keluar kembali dan memindahkan lokasi ke wilayah yang lain, proses yang sangat sulit dan memakan waktu lama.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan