Pendidik Surabaya Menyuluki Penguatan Keterampilan Lulusan Indonesia melalui Kurikulum Relevan dan Praktik Industri

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pemerintah mengutamakan pembangunan sumber daya manusia melalui Asta Cita Presiden, terutama pada aspek peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan sains, teknologi, serta kesempatan belajar yang merata. Akibatnya, pendidik dan akademisi di Surabaya mempertanyakan kebutuhan penguatan keterampilan lulusan Indonesia agar berkompetensi di skala global.

Dosen Dradjat Poespito dari LP3I Surabaya menekankan bahwa kurikulum harus ikutdi dengan tuntutan industri. Proses pembelajaran harus relevan dengan lapangan kerja, didukung oleh kualitas guru dan fasilitas yang memadai. “Kurikulum yang benar harus melalui proses belajar yang efektif, yang kemudian menghasilkan lulusan berkualitas,” kata ia dalam pertemuan dengan Pro1 pada 22 Juni 2026.

Pendidikan kejuruan, menurut Dr. Mulyadi Bayu Wibisana dan Janggan Jatmiko dari SMK Negeri 12 Surabaya, tidak boleh hanya mengandalkan teori. Praktik langsung di perusahaan atau industri perlu menjadi bagian wajib. “Lulusan harus langsung bisa bekerja setelah menyelesaikan studi,” ujar mereka. Pengalaman nyata di lapangan kerja membantu membangun keterampilan teknis dan etos kerja yang diminta industri.

Kesenjangan antara sekolah negeri dan swasta masih menjadi tantangan. Dr. Wijayadi dari UM Surabaya mengungkapkan perbedaan kualitas sumber daya, kesejahteraan guru, dan keterampilan lulusan. Ia menekankan perlunya evaluasi terstruktur bagi setiap siswa agar hasil pembelajaran dapat diukur dengan akurat.

Kesuksesan mewujudkan generasi terampil memerlukan kolaborasi. Pemerintah harus menyediakan fasilitas pendidikan yang merata, sementara sekolah harus terus meningkatkan metode pembelajaran. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan Indonesia memiliki generasi muda yang mampu bersaing di pasar kerja global.

Pemuda Indonesia memang memerlukan kurikulum yang dinamis sesuai tren industri. Update rutin dalam program studi dan pelatihan praktik langsung akan menciptakan lulusan yang tidak hanya memiliki teori, tetapi juga pengalaman nyata. Ini menjadi fondasi bagi mereka untuk mengejar kesuksesan di dunia kerja global.

Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri menjadi solusi mutakhir. Program seperti Asta Cita harus didukung dengan implementasi nyata di lapangan, terutama di Surabaya. Dengan ini, Indonesia bisa mengembangkan pendidik kejuruan yang responsif dan kompetitif.

Ini bukan sekadar pendanaan, tapi strategi untuk menciptakan lulusan yang siap menghadapi tantangan dunia kerja modern. Kualitas pendidikan harus terus dinamis, bukan statis. Lulusan yang terlatih berdasarkan kebutuhan industri akan menjadi asset penting untuk bangunan ekonomi nasional.

Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga praktis. Pendidikan yang relevan dengan dunia kerja bukan pilihan, melainkan keharusan. Lulusan yang memiliki keterampilan yang diminta industri akan menjadi pencahayaan bagi bangsa dalam era globalisasi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan