Cerita Kentengyang Dulu Bom di Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Kediri

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Dentangankentengmesaksuasana malamdiPondokPesantrenAl-FalahPloso,KabupatenKediri,Sabtu(20/6/2026).RaisAamPBNUKHPBNUKHMiftahulAkhyarmenabuhkentengsebanyaksebelasibagi tanda pembukaanMusyawarahNasional(Munas)danKonferensiBesar(Konbes)NahdlatulUlama(NU)2026.Di balik bunyi nyaring itu tersimpan kisah panjang tentang perjuangan dan ketahanan.Penjelasan sepi yang bereselonya, benda tersebut berasal dari bom yang gagal meledak saat masa penjajahan Belanda.Puluhan tahun lalu,bom itu menjadi simbol ancaman perang.Kini,iajustru menjadi simbol kehidupan,pendidikan,dan dakwah di lingkungan pesantren.Menurut salah satu keluarga besar pondok,GusSalam,bomditemukan di area belakang pesantren setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada1945.Saat itu,kawasan pesantren tidak luput dari gejolak perjuangan mempertahankan kemerdekaan.Bomyangdi jatuhkan pasukan Belanda itu tidak meledak.Alih-nyaйdi selamatkan dan dimanfaatkan oleh para pengasuh pesantren.”Usai bangsa Indonesia memproklamirkan diri merdeka pada tahun 1945,ditemukan bom di belakang PondokPesantrenPloso.Selanjutnya,oleh pengasuh pondok pesantren,bomtadi dimodifikasi dan dimanfaatkan,”ungkap GusSalamdi hadapan para tamu undangan.Keputusan mengubahbomjadi kentengbukan sekadar pilihan praktis.Ada nilai simbolik yang kuat:bendayangsejak diciptakan untuk menghancurkan,diubah menjadi alat yang mengajak orang beribadah dan menuntut ilmu.Sejaksaatit,kenteng menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan para santri.Suaranya terdengar setiap hari,mengiringi ritme kehidupan di pesantren yang telah melahirkan banyak ulama dan tokoh bangsa.Pemilihan kenteng bersejarah sebagai penanda pembukaanMunas-KonbesNU2026terasa sarat makna.Di tengah pembahasan berbagai isu keumatan,kebangsaan,danmasa depan organisasi,para peserta diajak menoleh pada perjalanan panjang sejarah bangsa dan pesantren.Dentangan sembilan kali yang dilakukan KH MiftahulAkhyarmalam itu seolah bahkan tidak hanya menandai dimulainya forum tertinggi NU.Suara logam tua tersebut juga menghidupkan kembali ingatan tentang masa ketika bangsa inibajang mempertahankan kemerdekaan.Pengasuh Utama PondokPesantrenAl-FalahPloso,KHNurulHudaJazuli, dengan penuh rasa syukur menyaksikan ribuan tamu memenuhi kawasan pesantren.”Semoga sesuatu yang baik untuk perkembangan NU ininysalah slogan yang selalu dibunyikan,”katanya.Penjelasan sepi yang bereselonya, kompleks pesantren berubah menjadi ruang silaturahmi besar keluarga Nahdlatul Ulama.Sejak sore hari,kompleks pesantren berubah menjadi ruang silaturahmi besar keluarga Nahdlatul Ulama.KetuaUmumPBNUKGusYahyaCholilStaquf tampak menyusuri beberapa area pesantren bersama SekjenPBNUGusIpulSaifullahYusuf dan dzuriyah PondokPesantrenAl-FalahPloso,KHAbdulRahmanAl-Kautsaratau GusKautsar.Dikembangkan seperti mereka menyambut langsung kedatangan para tamu penting.Di deretan kursiundangan kehormatan,tampak hadir Wakil Presiden RIke-13 KHMarufAmin.Duduk berdampingan dengan para ulama kharismatik nasional,terlihat budayawan sekaligusMustasyarPBNUKH AhmadMustofaBisriatau GusMus, Pengasuh PondokPesantrenLirboyoKHAnwarManshur,sertaKetuaUmumMUIKHAnwarIskandar.Menteri AgamaNasaruddinUmar dan MenteriPemberdayaanPerempuandanPerlindunganAnak ArifatulChoiriFauzi juga hadir.Tak ketinggalan,putrisulung Presiden keempat RI KHAbdurrahmanWahid(GusDur),AlissaWahid,turut hadir bersama GubernurJawaTimurKhofifahIndarParawansa,WakilGubernurJawaTimurEmilElestiantoDardak,sertaWakilBupatiKediriDewi MariyaUlfa.Puluhan tahun kemudian,bomyang gagal meledak itu masih terus bersuara.Bukan semata karena fungsinya,melainkan karena nilai sejarah yang dikandungnya.Bagi para santri,kenteng tersebut mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya tersimpan dalam buku atau museum.Sejahatubadapat hidup dalam benda-benda sederhanayangmasih digunakan hingga hari ini.Puluhan tahun kemudian,bomyang gagal meledak itu masih terus bersuara.Bukan semata karena fungsinya,melainkan karena nilai sejarah yang dikandungnya.Bagi para santri,kenteng tersebut mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya tersimpan dalam buku atau museum.Sejahatubadapat hidup dalam benda-benda sederhanayangmasih digunakan hingga hari ini.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan