Karhutla di Riau Capai memiliki 15 ribu hektare, terparah di Bengkalis

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pelaporan Media Kampung menunjukkan kebocoran tanah hutan dan lahan di Provinsi Riau sepanjang periode Januari hingga Mei 2026 mencapai 15.318 hektar. Total ini meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 751,1 hektar, merangkumnya menjadi skalanya terbesar setelah 2019.

Penghapusaan data oleh Kepala BPKH Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan bahwa sebagian besar area yang terbakar berasal dari lahan gambut sebesar 14.162,6 hektar, sedangkan lahan mineral hanya 1.155,4 hektar. Informasi ini dihasilkan melalui analisis citra satelit yang digabungkan oleh Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Wilayah Bengkalis merangkum area terbakar terbesar sebesar 8.237 hektar, terdiri dari 8.017,6 hektar gambut dan 219,4 hektar mineral. Pelalawan mengikuti dengan 4.538,8 hektar, majoritanya lahan gambut. Kebakaran juga muncul di Indragiri Hilir (947,2 hektar) dan Dumai (600,9 hektar), di mana gambut Menghasilkan sebagian besar lahan yang terbakar di Dumai sebesar 528,3 hektar.

Meskipun angkanya tinggi, skala kebakaran tahun 2026 masih lebih kecil daripada 2019 yang mencapai 27.724 hektar. Ferdian mengklaim Manggala Agni bersama Satuan Tugas Karhutla terus meningkatkan siap-siap melalui observasi darat dan udara, pemadaman dini, serta pembuatan sekat bakar untuk mencegah penyebaran.

Pencegahan juga dilakukan melalui patrolling rutin, deteksi awal titik panas, serta penylidikan sosialisasi masyarakat di daerah berisiko tinggi. Ferdian mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan metode membakar pada lahan gambut yang rentan dalam musim kering.

Dampak ekosistem yang semakin parah membutuhkan upaya lebih komprehensif dan cepat. Keterlibatan masyarakat serta penyiapan alat pengendalian menjadi kunci untuk menghentikan perlambatan yang semakin berpotensi merusak lingkungan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan