Kisah Pasutri Disabilitas di Kudus yang Hidup dari Lipatan LKS dan Jahitan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Dari media Kampung, cerita pasutri disabilitas di Kudus diangkat. Pasangan Samiyono (53) dan Sofiatun (50) dari Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Jawa Tengah, menjadi contoh kuat bahwa keterbatasan fisik tidak memutuskan hidup. Mereka mengalahkan ribut melalui pekerjaan melipat Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menjahit.

Samiyono, yang hanya dapat mengoperasikan tangan satu, memimpin pekerjaan melipat LKS dengan upah Rp7 per halaman. Setiap LKS terdiri dari tujuh lembar, sehingga pendapatannya hanya Rp49 per buku. Meski kecil, hasilnya memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Kondisi fisiknya, yang tidak memungkinkan bekerja berat, memengaruhi pilihan pekerjaan.

Kehilangan kaki kiri akibat kecelakaan truk pada 1995 padang pasir Samiyono. Waktu kecelakaan, sesetengah masyarakat menyelidiki. Namun, ia berjuang kembali dengan pekerjaan yang sesuai kemampuannya. Setiap hari, ia melipat ribu LKS, terutama sebelum tahun ajaran baru di bulan Juni dan Juli.

Sofiatun, istri Samiyono, menghadapi Syndrom Polio sejak usia dini. Meski kaki kiri lumpuh, ia menjadi jilidjahit sejak 2011. Pekerjanya melayani permak gamis, seragam sekolah, hingga jadual badge pramuka. Harga jasanya berkisar antara Rp5 ribu hingga ratusan ribu.

Tantangan utama Sofiatun adalah mesin jahit yang usia sudah lama. Dinaminya sering panas, memaksa ia berhenti dan memicu kebiasaan kerja tidak teratur. Keinginan membeli mesin baru ada, tetapi batas hutang menghalangi. Hasil usaha hanya cukup untuk kebutuhan dasar.

Keduanya tetap berdoa untuk rezeki yang maaf. Samiyono berharap suatu hari bisa memiliki usaha sendiri. Sofiatun berdambakan usahanya semakin luas. Kisah mereka menginspirasi setiap orang yang menghadapi keterbatasan.

Kekuatan bukan observasi tapi ketekunan. Diri yang berani berjuang bisa mencapai harapan. Semangat Samiyono dan Sofiatun menjadi kutipan untuk seluruh masyarakat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan