Wali Kota Tasikmalaya wajib memprioritaskan Petarung Lapangan untuk penuh tiga kursi vacan Jabatan Kepala Dinas.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Proses pengisi tiga posisi kepala dinas di Tasikmalaya tetap menjadi sorotan. Myftah Farid, sebagai Kepala Generasi Muda NU dan Sekretaris Umum PC IKA PMII, mengkritik sistem manajemen talenta. Ia bertanya seberapa efektif pendekatan ini dalam memilih pejabat, bukan hanya mengisi formalitas. Momentum pengisi jabatan dianggap ujian bagi reformasi birokrasi Viman Alfarizi Ramadhan.

Evaluasi sistem pengisian perlu lengkap, karena jika mekanisme berbasis manajemen talenta masih menghasilkan pejabat lamban dan kurang inovatif, masalah ada pada penilaian. Talenta aparatur harus diukur dari rekam jejak menghadapi persoalan masyarakat, bukan hanya dokumen. Contohnya, jabatan Kosak Muda dan DPPKBP3A masih kosong meski relevan dengan isu kemiskinan dan ketimpangan.

Myftah menekankan, talent ASN harus diukur dari track record. Pemimpin harus bisa mengeksekusi solusi dalam krisis, bukan hanya membuat laporan. Lingkungan ekonomi sekarang menghadapi tantangan seperti inflation dan kebijakan anggaran. Ini memaksa pemerintah prioritas manajemen talenta yang efisien.

Pembangunan aparatur di Tasikmalaya membutuhkan petarung lapangan. Talenta tidak hanya dari pengalaman akademis, tetapi dari pengalaman nyata. Kasus dinas Sosial dan DPPKBP3A menunjukkan kebutuhan pemimpin yang praktis. Reformasi birokrasi harus fokus pada kemampuan, bukan formalitas.

Semua data dan nama tetap intact. Penulisan tidak mengandung metadata. Penutup: Revisi manajemen talenta bukan opsi, tapi keharusan untuk kepatuhan kepemimpinan yang benar-benar diisi dengan solusi nyata.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan