Siapa yang Jadi Raja Elbaf di One Piece Selanjutnya

Photo of author

By Nur

Siapa yang Jadi Raja Elbaf di One Piece Selanjutnya

Hajrudin lebih tepat untuk menempati takhta Elbaf, dan ini juga lokasi tempat One Piece terasa sangat dinamis: raja yang paling ideal belum selalu yang paling kuat. Di arc ini, Eiichiro Oda sering lebih fokus pada arah transformasi daripada keberhasilan fisik. Elbaf tidak hanya tentang kekuatan fisik. Ini tentang warisan, isu sosial, dan siapa yang mampu membawa negeri itu ke luar tradisi yang tidak sehat. Berikut analisis siapa yang akan menjadi raja Elbaf berikutnya di One Piece.

Gw selalu menghabiskan waktu untuk memahami reaksi terhadap Elbaf. Kerajaan raksasa seperti META untuk arena politik, tapi ternyata takhtanya segerus setelah Raja Harald meninggal. Dua kandidat masuk ke ruang: Loki dan Hajrudin. Keduanya memiliki latar belakang kerajaan, tapi jalur hidup mereka saling bertentangan.

Loki memiliki keunggulan yang sulit ditolak. Dia adalah putra raksasa resmi Elbaf, sehingga secara resmi ia menjadi penunggal takhta. Tradisi Elbaf yang kuat kemungkinan besar masih mengutamakan keturunan, dan di sini Loki memiliki keunggulan. Tambahkan fakta bahwa memerlukan intervensi Shanks untuk mempertahankannya, dan kita bicara ukuran ancaman yang jauh dari biasa.

Ilustrasi Loki di One Piece

Keberhasilan Loki sangat bergantung pada kekuatan, yang penting karena kerajaan seperti Elbaf jarang diracak oleh pemimpin lemah. Banyak rakyat pasti berterima, “kalau dia seperti itu, maka hal ini sudah tentu.” Namun, One Piece jarang sederhana seperti itu.

Reputasi Loki sebenarnya menjadi ancaman. Dia dikenal lemah, kias, dan suka membuat masalah. Kalau terbitnya tuduhan bahwa ia membunuh ayahnya, rakyat Elbaf hampir pasti akan melawan. Raja yang sah itu satu hal, tapi raja yang dipercaya itu hal lain.

Di sini Loki mulai terpukul. Hak warisannya memang kuat, tetapi keabsahan moralnya digoreng habis-habisan oleh reputasi buruk. Kalau teori bahwa ia tidak bersalah ternyata benar, situasinya berubah drastis. Namun sampai bukti muncul, Loki masih tetap berdiri.

Ilustrasi Hajrudin di One Piece

Hajrudin justru menang di sisi yang sering diabaikan fan: legitimasi hati. Dia bukan petarung dari kelas royali. Di Dressrosa, ia kena K.O dari Luffy, jadi figur yang tidak penting seperti Sugar, dan bacaan belur dihajar Machvise. Kalau duel murni, Hajrudin belum ada di kelas yang sama.

Namun di situ menarik. Hajrudin tumbuh sebagai orang yang sejak awal ditolak karena ibu dari luar negeri. Ibunya bahkan tidak diakui sebagai raksasa, sehingga Hajrudin hidup tanpa hak warisan, tanpa tempat, tanpa restu istana. Bayangkan, kerajaan tetapi tetap dianggap tidak berwenang. Sakit, kan?

Namun dia tidak membiarkan diskriminasi menjadi akhir ceritanya. Hajrudin tidak bergerak karena sengaja. Dia ingin menjadi raja untuk menyatukan semua raksasa, bukan hanya Elbaf. Itu bukan ambisi pribadi, tapi visi.

Ilustrasi kemungkinan Loki menjadi raja berikutnya

One Piece sering mengangkat tokoh yang melawan takdir sosial. Naruto adalah contoh mudah, tapi pola serupa juga hidup di sini: orang yang dikucilkan justru tumbuh jadi simbol perubahan. Elbaf punya sejarah diskriminasi panjang, dan Oda suka menggunakan luka lama sebagai bahan konflik besar. Jadi, kalau arc ini ingin berarti, Hajrudin cocok untuk jawaban.

Ada yang bilang, “Tapi raja harus kuat dong.” Betul. Tapi sejarah One Piece tidak pernah memuja kekuatan mentah sebagai syarat utama jadi pemimpin ideal. Yang dicari Oda biasanya adalah figur yang bisa bikin orang percaya, berdiri, dan bergerak bersama. Kekuatan bisa bikin orang tunduk. Kepemimpinan bikin orang ikut.

Di titik itu, Hajrudin unggul. Dia membawa ide tentang Elbaf yang baru, bukan Elbaf yang terus mengulang diskriminasi lama. Kalau ia bisa membuktikan diri sebagai pemimpin yang lebih bijak dan mampu menyatukan para raksasa, takhta itu bukan hanya tentang kekuatan. Loki mungkin kuat, tapi Hajrudin punya arah.

Masalahnya, Loki masih belum selesai. Kalau ternyata dia tidak bersalah atas kematian Harald, One Piece bisa menyiapkan jalur lain: Loki meninggal dari Elbaf, lalu menjadi sekutu Luffy di perang besar nanti. Mural Tiga Dunia di chapter 1138 bahkan memberi bayangan raksasa dengan cap berhelm tanduk yang mirip Loki berdiri di sisi Nika melawan monster misterius. Kalau itu benar, Loki mungkin bukan raja Elbaf, melainkan petarung yang ditangkap buat perang besar.

Jadi posisi paling masuk akal tetap jelas: Hajrudin duduk di takhta, Loki melangkah ke laut. Kombinasi ini paling sesuai dengan One Piece: satu memimpin perubahan di rumahnya, satu lagi mencari takdir di medan perang yang lebih besar. Kalau Oda benar-benar ingin Elbaf jadi arc yang memberi dampak, Hajrudin adalah kunci, dan Loki adalah kartu liar yang belum selesai dimainkan.

Baca juga Anime lainnya di Info Anime & manga terbaru.

Tinggalkan Balasan