PGRI Kab. Tasikmalaya Meningkatkan Kualitas Kepengurusan dalam Cabang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kab. Tasikmalaya menyelenggarakan orientasi tata kerja bagi pengurus cabang masa bakti XXIII 2025-2030 pada Senin, 25 Mei 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat tata kelola, meningkatkan profesionalisme, serta menjaga keberlanjutan organisasi. Peserta dari berbagai kecamatan Kab. Tasikmalaya hadir untuk mempelajari aspek administrasi dan operasi PGRI.

Sekretaris PGRI Kab. Tasikmalaya, Ade Dasmana menekankan bahwa kekuatan organisasi tergantung pada pemahaman pengurus terhadap aturan dan ketangguhan eksekusi. “Organisasi besar bukan dari jumlah, tapi dari kualitas pengurus yang konsisten dalam menjalankan peran,” kata ia. PGRI, sebagai entitas terdewi di bidang pendidikan, memerlukan kepengurusan yang memahami struktur, keputusan, dan kerja sama antar tingkatan.

Materi yang diberikan mencakup tata kelola, keuangan, etika, serta pendirian kebijakan. Ade Dasmana menjelaskan prinsip dasar seperti transparansi, partisipasi, serta kolektivitas. “Semua kebijakan harus melalui musyawarah dan eksekusi bersama,” ujarnya. Keanggotaan menjadi inti organisasi; pengurus harus menjadi pelayan, bukan pemimpin. Tanpa perhatian terhadap anggota, PGRI risiko kehilangan keunggulannya.

Pernah, pengurus diharapkan prioritas dalam layanan kepegawaian. “Kepengurusan adalah pelayan, bukan pemilik,” menegaskan Ade. Penguatan administrasi, terutama kesekretariatan, menjadi kunci keberlanjutan. Peserta didampingkan dengan teknik profesional dalam mengelola documentasi dan komunikasi.

Pembelajaran juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar cabang. “Kebijakan yang baik tidak bisa berdiri sendiri. Harus didukung oleh kerja sama lintas wilayah,” menyertakan Ade. Hal ini relevan di era digitalisasi, di mana informasi cepat dan koordinasi jelas menjadi kebutuhan kritis.

Kesejahteraan guru dan kualitas pendidikan menjadi tanggung jawab PGRI. Pengurus dihadapkan pada tantangan untuk menjaga integritas, meski kebutuhan modernisasi. “Profesi guru bukan hanya untuk mengajar, tapi untuk menjaga nilai-nilai pendidikan nasional,” kata dasmanya.

Penguatan profesionalisme melalui orientasi ini memungkinkan PGRI beradaptasi dengan perubahan. Fokus pada kolektivitas dan transparansi menjadi solusi untuk menghadapi tantangan masa depan.

Setiap pengurus perlu sadar bahwa keberlaksanaan organisasi terletak pada kelembaganya. Dengan komitmen kuat, PGRI bisa terus menjadi jantung kehidupan guru Indonesia, memastikan pendidikan tetap relevan dan berkelanjutan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan