Masalah Sampah di Tasikmalaya Masih Berakar pada Pola Politik Lama, Forsil: Solusi Harus Ditegakkan Sebelum Terkadang di Bawah Truk

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Proyekpengolahan sampah modern dengan anggaran Rp80 triliun yang di pelaksanakan Danantara dan BRIN kini mendapat perhatian luas di Tasikmalaya. Forum Silaturahmi (Forsil) RT/RW kota ini menilai initiative ini harus bergerak lebih dalam, bukan hanya sebagai simbol simbolis.

Ketua Umum Forsil, Deden Tazdad Hubban, mengakui masalah sampah di Tasikmalaya telah bersifat kronis. Volume sampah terus meningkat seiring peningkatan penduduk dan kebiasaan konsumpsi masyarakat. “Sampah ini bukan lagi masalah rahasia, tapi fenomena yang langsung terlihat di lingkungan kita,” kata dirinya.

Proyek ini memerlukan ketegasan pemerintah daerah, bukan hanya menunggu keputusan dari pusat. Deden menekankan bahwa sampah lebih mendesak dibanding program lain karena dampaknya langsung terasa. “Kalau sampah 1000 jempol, ini masalah klasik yang harus diatasi,” ujarnya.

Kota Tasikmalaya memiliki potensi akademik melalui berbagai universitas seperti Poltekkes, BTH, dan Unsil. Forsil menyarankan mereka untuk menyusun riset mendalam sebelum memulai proyek. Kajian ini harus mempelihara budaya masyarakat serta mengevaluasi kebijakan masa lalu yang belum efektif.

Solusi praktis harus mulai dari skala lokal. Deden menyarankan membangun 10 titik pengolahan sampah di kecamatan awal, bukan langsung melibatkan seluruh 69 kelurahan. “Jangan berlebihan, mulai dari yang terprioritas,” tegasnya.

Proyek ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Berbagai pengalaman dari wali kota sebelumnya menunjukkan bahwa kebijakan hanya berlipat ganda tanpa solusi nyata. “Kami harus belajar dari kesalahan masa lalu,” menyimpang Deden.

Sampah di Tasikmalaya memerlukan pendekatan yang berkelanjutan. Proyek Rp80 triliun ini bisa menjadi solusi jika dijalankan dengan ketatkasihan dan partisipasi masyarakat. Langkah kecil seperti menyiapkan titik pengolahan di 10 kebunannya bisa menjadi awal utama.

Dengan memicu inovasi dan mengajak kolaborasi, Tasikmalaya bisa menjadi contoh kota yang mengelola sampah secara efisien. Pendekatan berbasis wilayah bukan hanya mengurangi masalah sampah, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Langkah pertama yang tepat akan menentukan apakah proyek ini bisa berhasil.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan