Produksi tempe dan tahu di Ciamis mengalami penurunan karena penurunan nilai Rupiah terhadap Dolar AS. Perajin tempe di Dusun Cikaret, Miya, mengakui kenaan karena harga kedelai impor dari AS dan plastik melonjak. “Bahan-baku seperti ini membuat rakyat tidak mampu berproduksi,” katanya dalam percakapan Selasa (19/5/2026).
Kedelai impor yang sebelumnya Rp 8.000/kg kini naik ke Rp 10.600/kg. Perajin tak mampu menaikkan harga tempe walaupun biaya bahan baku meningkat. Harga jual tetap Rp 2.000, sementara ketersediaan kedelai berkurang. “Saya hanya bisa menurunkan ukuran tempenya sedikit,” ujarnya.
Plastik untuk pembukusan tempe juga mahal. Harga bal Rp 290.000 sekarang Rp 500.000. “Plastik naik dua kali lipat,” kata perajin tempe. Daya beli masyarakat berkurang, sehingga produksi turun.
Kedelai lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi perajin memilih impor AS karena kualitas lebih baik. “Tahan lama dan cocok untuk tempe,” menjelaskannya.
Perajin tahu di Dusun Cibodas juga kesulitan. Bahan kering kedelai menjadi hambatan utama. “Kualitas tak bisa diwujudkan tanpa kedelai stabil,” ujarnya.
Harga kedelai impor dan plastik berpotensi turun. Perajin harap pemerintah memberikan dukungan. “Tidak boleh membebani kita dengan biaya yang tinggi,” katanya.
Bagi perajin tahu, tantangan utama tetap bahan kering. Harga kering naik, sehingga produksi terpengaruh. “Butuh solusi jangka panjang,” ujar Carmana.
Produksi kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak dipilih. Kualitas impor dianggap lebih baik. “Membantu produk lokal tanpa kompromi kualitas,” katanya.
Tingkat keterbatasan bahan baku mempengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi skala produksi. “Hanya bisa bertahan dengan dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal masih ada, tetapi tidak diadopsi. Perajin memprioritaskan kualitas impor. “Konsumtir lebih percaya produk impor,” menjelaskannya.
Harga tempe tetap stabil karena perajin tidak menaikkan. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga tetap rendah. “Rakyat tidak mampu membeli tempe mahal,” katanya.
Plastik menjadi biaya terbesar. Rp 500.000 per ball harus ditanggung. “Harga plastik mempengaruhi keuntungan,” ujar perajin tahu.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material berkenaan meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua kali lipat. Perajin tidak bisa menyesuaikan harga tempe. “Biaya material terlalu tinggi,” katanya.
Produksi tahu di Dusun Cibodas berkurang. Keterbatasan kedelai memengaruhi output. “Butuh solusi cepat,” ujar Carmana.
Kualitas impor lebih dipercaya. Perajin tidak ingin risiko terburuk karena bahan lokal. “Konsumtir ingin tempe tahan lama,” menjelaskannya.
Harga kedelai impor dan plastik memengaruhi produktivitas. Perajin terpaksa mengurangi produksi. “Butuh dukungan pemerintah,” ujarnya.
Alternatif bahan kering lokal tidak diselenggarakan. Perajin tetap berkecimpung impor AS. “Kualitas lokal tidak memenuhi kebutuhan,” katanya.
Harga tempe tetap Rp 2.000. Volumen kedelai berkurang, sehingga harga stabil. “Rakyat tidak mampu membeli harga lebih tinggi,” ujar perajin.
Plastik menjadi biaya utama. Rp 500.000 per ball mempersatuhi keuntungan. “Harga material naik, keuntungan turun,” katanya.
Produksi tempe dan tahu di Ciamis terancam. Biaya bahan baku dan material meningkat. “Butuh kebijakan mendukung,” kata mereka.
Dukungan pemerintah diperlukan. subsidi kedelai impor dan plastik dapat membantu. “Tanpa bantuan, bisnis akan terancam,” ujar perajin.
Kualitas produk tetap prioritas. Perajin tidak mengurangi harga untuk memenuhi permintaan. “Jika kualitas turun, penjualan terancam,” katanya.
Bahan kering lokal Rp 7.000/kg ada, tetapi tidak diselenggarakan. Perajin lebih memilih impor. “Kualitas local tidak memungkinkan,” ujarnya.
Harga plastik naik dua
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.