Tanpa Demo, Buruh di Ciamis Tetap Suarakan Hak di Peringatan May Day 2026

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei 2026 di Ciamis akan digelar dengan pendekatan non-agresif. Serikat pekerja lokal, melalui KSPSI, akan mengamati langsung aktivitas perusahaan dengan tujuan memastikan hak-hak pekerja tetap terjamin. Pendekatan ini difokuskan pada pengawasan langsung, tanpa aksi fisik atau demonstrasi.

Ketua KSPSI Ciamis, Iwan Erawan, menjelaskan bahwa kegiatan May Day ini tidak melibatkan aksi unjuk rasa. Sebagai alternatif, kelompok ini akan melakukan pemantauan terhadap perusahaan yang memiliki lebih dari 100 karyawan. Tujuannya untuk memastikan kelancaran hari libur nasional bagi pekerja, kecuali dalam situasi darurat seperti tenaga kesehatan atau layanan publik.

“Monitoring ini bertujuan untuk memastikan perusahaan tidak mengabaikan kewajiban sosial mereka,” ujar Iwan. “Kami hanya menghadiri lokasi tanpa mengganggu operasinya, tetapi tetap mencatat jika ada melanggaran hak kerja.”

Meski tanpa aksi langsung, KSPSI tetap menekankan bahwa May Day adalah kesempatan untuk menyuarakan aspirasi sehubungan dengan hak dan kesejahteraan buruh. Iwan menonjolkan bahwa standar upah tahun 2026 di Ciamis harus mencapai Rp 2.373.643 per bulan. Selain itu, setiap pekerja diharapkan mendapatkan jaminan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

Ciamis memiliki karakteristik ketenagakerjaan yang berbeda dari daerah industri besar. Majoritas usaha di sana berupa industri rumahan dan sektor perdagangan. Beberapa usaha baru masih dalam fase pengembangan, sehingga struktur pengupahan sering bergantung pada kesepakatan langsung antara pengusaha dan pekerja.

“Di Ciamis, banyak perusahaan masih belum sepenuhnya mengadopsi sistem upah resmi,” ujar Iwan. “Namun, kami tetap berupaya untuk meningkatkan kesadaran akan hak-hak yang harus dipenuh.”

KSPSI juga telah melakukan koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Ciamis untuk memahami isu-isu strategis ketenagakerjaan di wilayah tersebut. Ulangkali bertemu, diskusi fokus pada hubungan antara kelembagaan dan kesejahteraan pekerja.

“Kami ingin memastikan kebijakan pemerintah terintegrasi dengan realita di lapangan,” tambahkan Iwan. “Hari ini, lebih banyak perjuangan berfokus pada pemberantasan ketidakadilan mikro, terutama di usaha kecil.”

Selama peringatan May Day, KSPSI mengingatkan bahwa keterlibatan aktif pekerja tetap penting. Meskipun tidak ada aksi fisik, pengawasan di lapangan dianggap sebagai langkah awal untuk memperkuat aksesibilitas hak kerja.

May Day di Ciamis menjadi penegasan bahwa perjuangan buruh tidak hanya tentang aksi demonstratif, tetapi juga tentang konsistensi pengawasan. Dengan pendekatan ini, masyarakat bisa melihat perubahan yang lebih berkelanjutan. Bagaimana jika kita merenung lebih dalam bagaimana pengawasan di lapangan bisa menjadi alat yang efektif untuk melindungi hak kita?

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan