Polisi di Tasikmalaya Tebarkan Pesan Humanis dalam Nobar Persib vs Arema

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Laga Persib Bandung versus Arema FC di Tasikmalaya pada pekan ke-29 Liga 1 2025/2026 tidak hanya menjadi penentu di puncak klasemen, tapi juga menjadi moment yang menggumpang masyarakat. Acara digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada Jumat (24/4/2026) sore, yang dimulai dengan nonton bareng (nobar) yang dipimpin oleh Polres Tasikmalaya Kota di halaman Mapolres.

Kapolres Tasikmalaya Kota, Andi Purwanto, mengungkapkan bahwa antusiasme warga jauh melampaui ekspektasi. Ribuan orang terlihat di luar panggung, meski hanya melalui layar. Doa, celetukan khas bobotoh, hingga pengucapan dukungan saling berkecamatan semuanya menekan dalam satu suara: Persib harus menang.

“Ini bukan sekadar nonton. Kami ingin masyarakat melihat polisi dari sisi yang lebih dekat,” katanya, disambut senyum dan puitis oleh penonton. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk merendam jarak yang selama ini terasa kaku. Di tengah stereotip aparat yang sering dianggap kaku, malam itu pun penuh canda, kopi hangat, dan moment-momen yang menjadi saksi hubungan yang semakin hangat.

Kegiatan “Polisi Sahabat Masyarakat” ini menjadi cara sederhana untuk menunjukkan bahwa polisi punya hati. Dari anak muda hingga tokoh masyarakat, semua terlibat dalam satu warna: biru. Polres berharap kegiatan serupa bisa terus berlangsung, bahkan hingga laga final. “Kalau Persib juara, kita akan merayakan bersama di Tasik,” tambahnya.

Laga itu sendiri tetap membingungkan dengan skor 0-0 hingga menit 90. Namun, di Tasikmalaya, energi yang disampaikan oleh masyarakat menjadi wawasan berharga. Acara tidak hanya tentang sepak bola, tapi juga tentang kerjasama yang bisa mengubah persepsi.

Kebijakan atau inisiatif seperti ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain. Kolaborasi antara aparat dan masyarakat tidak hanya menenangkan, tapi juga bisa menjadi fondasi untuk relasi yang lebih transparan. Setiap laga, baik besar atau kecil, bisa menjadi peluang untuk memperkuat keadilan sosial.

Setiap kali bola melaju, ada juga orang yang sentuhnya dengan hati. Di Tasikmalaya, peluncuran bola tidak hanya mengisi lapangan, tapi juga melekat dalam hati masyarakat. Ini adalah pengingat bahwa solidaritas bisa muncul dari tempat yang tidak diketahui.

Teruskan ini. Jangan biarkan kebijakan menjadi cermin yang terpisah. Coba kerjakan, mulai dari hal kecil. Polisi, masyarakat, atau bahkan laga sepak bola – semua bisa menjadi sarana untuk membangun daya tarik bersama.

Setiap perjuangan untuk meringankan jarak bisa dimulai dari sini. Acara ini membuktikan bahwa ketenangan dan kehadiran bisa menjadi bahan baku untuk hubungan yang lebih baik. Jangan ragu untuk menjadi bagian dari perubahan itu.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan