Bukit yang diganti dengan ruang nongkrong, kafe pada Ledakan di Tasikmalaya dibatalkan.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kota Tasikmalaya mengalami perubahan drastis di bidang pengembangan kafe. Yang dulu menjadi ciri khasnya, yakni 1.000 bukit, kini telah digantikan oleh 496 unit kafe, mengalahkan Bekasi yang memiliki 622 unit. Perubahan ini dikemukakan oleh ketuapDKKT, Tatang Pahat, yang merasa keberhasilan ekonomi berbasis gaya hidup mengabaikan identitas alam kota. “Dulu Tasik dikenal dengan 1.000 bukit. Sekarang? Ya jadi 1.000 kafe. Bukit jadi kafe, jadi perumahan,” ujarnya, dengan nada yang lebih seperti pemberitaan ketidaktengahan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menyokong fakta ini, meskipun ketuap DKKT menilai jumlahnya lebih tinggi. Ketentuan disalah ketentuan, dengan Disporabudpar menyebut hanya ada 166 unit kafe. Perbedaan ini mencerminkan konflik perspektif antara pengamalan resmi dan ketemu praktis.

Perkembangan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keberagaman alam. Hutan kota mulai terdesak, dan aktivitas galian ilegal semakin menyelap. “Hutan kota masih ada, tapi di sekitarnya banyak galian ilegal. Sepanjang jalan kota terlihat,” ujar Tatang Pahat, dengan suasana yang mengingatkan pada kondisi yang kritis.

Pembangunan komersial terus melambangkan, meskipun pemerintah daerah masih berusaha mengatur. Deddy Mulyana, kepala Disporabudpar, mengklaim jumlah kafe lebih terkendali. Di sisi lain, kritikus seperti Tatang Pahat menganggap ini tidak mencukupi untuk menghentikan kerusakan ekologis.

Perubahan ini mengkenaikan pertanyaan tentang keseimbangan antara perkembangan gaya hidup dan pengelolaan alam. Sebagai kota yang dulu dikenal dengan keindahan alam, Tasikmalaya harus mempertimbangkan dampak jangka panjang. Meskipun ekonomi bergerak, keberlanjutan lingkungan menjadi kuncinya.

Pembangunan kafe harus diimbangi dengan pengertian lingkungan. Jika tidak, keunikan alam Tasikmalaya akan berubah menjadi lankas. Kemajuan gaya hidup ini tidak boleh menghancurkan keberagaman alam yang dulu menjadi ciri khas. Hati-hati, karena perubahan ini bisa menjadi permanent jika tidak diatur.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan