Imbas Duguan Pencemuran, RPH Ciawi di Tasikmalaya Temporarily Stops, Meat Distribution Affected

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

OperasiRumah Potong Hewan (RPH) Ciawi di Tasikmalaya dihentikan sementara, memicu reaksi masyarakat. Kegiatan ini dilakukan pemerintah daerah setelah muncul risiko pencemaran air dari aktivitas RPH, serta belum terpenuhi persetujuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Dampak langsung terasa oleh masyarakat, terutama pada ketersediaan daging sapi di Kecamatan Ciawi yang berkurang. Warga dan pelaku usaha terpaksa mencari sumber daging dari luar wilayah.

Pemerintah Provinsi Tasikmalaya telah menyusun rekomendasi penghentian RPH Ciawi melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan. Penghentian ini menjadi tindakan lanjut terhadap pengaduan masyarakat pada 20 Maret 2026 terkait potensi pencemaran air di Kampung Lanbau, Desa Pakemitan, Kecamatan Ciawi.

Pengecekan lapangan pada 26 Maret 2026 menunjukkan RPH Ciawi memiliki kapasitas penyembelihan hingga delapan ekor sapi. Namun, fasilitas tersebut belum disertai persetujuan lingkungan atau rekomendasi teknis. Otoritas meminta RPH menyelesaikan persetujuan lingkungan, termasuk persetujuan teknis pengelolaan air limbah untuk memenuhi Standar Baku Air Limbah (BMAL). Selama proses, aktivitas penyembelihan harus berhenti.

Pengelola RPH juga diwajibkan melakukan uji kualitas air sungai yang terpengaruh oleh aliran limbah. Koordinasi dengan pemerintah setempat, mulai dari RT, RW, hingga masyarakat terdampak, juga diminta dilakukan. Yudi Jahitan, salah satu pemimpin masyarakat di Ciawi, mengkritik kebijakan ini. “Dampaknya sangat luas, termasuk di luar Tasikmalaya seperti Panumbangan, Malangbong, dan Garut, yang tergantung pada daging dari RPH Ciawi,” ujarnya.

Pemerintah harus segera mempercepat proses persetujuan dan rekomendasi teknis. Selain itu, perlu penegakan standar lingkungan yang lebih ketat untuk mencegah masalah serupa di daerah lain. Keterlibatan masyarakat dalam pemantauan aktivitas RPH dan pengelolaan lingkungan menjadi kunci agar keseimbangan antara kebutuhan pangan dan kehalalan lingkungan terwujud.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan