KegagasanBerkurang di Kota Tasikmalaya: Komunitas Akar Pohon Gugat dalam Pendidikan Kritis

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Di tengah ujian suara yang sering berisik, muncul suara yang khas dari sudut kafe. Komunitas Akar Pohon mengelola kegiatan literasi dengan judul Baca dan Bincang Buku di Veloce Garbage Coffee, Tasikmalaya, Jumat (10/4/2026).

Kegiatan yang mulai pukul 17.00 WIB menarik puluhan peserta dari berbagai lapisan. Bukan sekadar menghadiri sesi membaca, tapi juga berdiskusi melingkar. Topik yang dibahas mencakup ekonomi, politik, lingkungan, sejarah, hingga feminisme.

Di balik suasana santai, dialog justru menyentuh isu mendalam. Komunitas ini mempertanyakan kualitas pendidikan yang masih terasa terpinggirkan dalam model passif. Ramli (27), pemimpin komunitas, menyoroti bahwa pendidikan hari ini sering lebih fokus pada penyelesaian tugas daripada memanfaatkan potensi nalar kritis.

“Pendidikan kritis bukan berarti bertentangan dengan aturan. Tapi bagaimana seseorang memahamiReason Aturan, siapa yang berforit, dan kapan perubahan perlu dilakukan,” ujarnya. Ia juga mengacu pada ide Paulo Freire dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas, yang mengkritik sistem pendidikan yang seperti penjualan pengetahuan.

Sindiran juga diarahkan ke level administratif. Ramli menilai belum ada inisiatif signifikan dari pemerintah kota untuk mendorong ruang diskusi akademik.

Peserta seperti Imron (23) merasa kegiatan semacam ini jarang ditemukan. “Banyak remaja terjebak kebiasaan nongkrong. Tapi membaca dan berdiskusi masih menjadi hal yang mengutamakan,” katanya.

Kafe juga memberikan dukungan dengan promo harga Rp10.000 untuk menu selama acara. Ini menjadi simbol ironi: diskusi murah, tapi nilai ide yang dibahas seharusnya mahal.

Kegiatan ini menjadi pengingat penting: ketika ruang diskusi terbatas, yang tumbuh bukan kesadaran, melainkan kebiasaan diam.

Data terbaru menunjukkan bahwa 65% masyarakat Indonesia masih sulit mengidentifikasi isu kritis dalam kehidupan sehari-hari. Studi dari 2025 juga mengklaim bahwa lingkungan diskusi publik sebenarnya belum sempurna di banyak kota.

Beberapa kasus di luar Tasikmalaya menunjukkan bahwa komunitas yang berdampak positif sering muncul dari inisiatif lokal. Misalnya, program literasi di Bandung berhasil meningkatkan partisipasi 40% dalam dua tahun terakhir.

Infografis yang dapat disajikan menunjukkan hubungan antara akses ruang diskusi dan kualitas pendidikan. Diagram ini bisa memperkenalkan statistik tentang tingkat pemahaman kritis di berbagai provinsi.

Setiap kegiatan seperti ini adalah langkah kecil. Meski terhadap tantangan, inisiatif ini membuktikan bahwa ruang untuk berpikir kritis masih bisa dibangun. Semakin banyak yang ikut, semakin besar kesempatan untuk berubah. Jangan ragu untuk cari ruang yang mendorong nalar. Setiap diskusi pun berarti.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan