Kota Tasikmalaya Meningkatkan Pengajaran Anti Kekerasan di Sekolah, Tidak Sekadar Upacara

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Peran UpacaraBendera dalam Pencegahan Kekerasan di Sekolah

Kota Tasikmalaya memanfaatkan upacara bendera sebagai medium pemberitaan tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Epi Mulyana, Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, memanfaatkan ritual ini untuk menyampaikan pesan penting di sekolah SMPN 5 dan SMP 17. Pendekatan ini tidak hanya formal, tetapi dirancang untuk menyentuh emosi dan relevan dengan kehidupan siswa.

Dalam upacara tersebut, Epi menyoroti tiga aspek utama: mencegah tawuran antar pelajar, mengajarkan penggunaan digital yang bertanggung jawab, dan menciptakan lingkungan yang aman dari konflik virtual. Ia menekankan bahwa dunia maya memang menjadi ruang kekerasan baru, di mana perundungan bisa terjadi lewat layar dengan dampak yang lebih serius.

Edukasi digital menjadi prioritas karena banyak remaja masih menganggap ruang online seperti wilayah tanpa aturan. Hal ini mencerminkan kesadaran yang masih terbatas. Epi juga menegaskan pentingnya komunikasi keluarga yang kuat. Banyak kasus kekerasan tidak terdeteksi karena tidak dilaporkan. Orang tua dan anak seringkali bertelepon dingin, sehingga masalah tidak terdeteksi.

Upaya ini juga berfokus pada penguatan hubungan antara orang tua dan anak melalui pendekatan persuasif. Di sekolah, guru diperbolehkan untuk menjadi pemberi tahu dan penguat ketahanan keluarga. Epi mengingatkan bahwa penyebaran kekerasan sering sekali berhenti pada tahap diam, tanpa diketahui oleh saksi atau pihak berwenang.

Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa kebijakan pencegahan tidak boleh bersifat pasif. Semua pihak—sekolah, keluarga, dan masyarakat—mengikat untuk menciptakan lingkungan yang aman. Epi menegaskan bahwa setiap individu punya peran dalam melaporkan atau mencegah tindak pidana.

Upacara bendera bukan hanya ritual, tetapi alat strategis untuk menyentuh hati dan pikiran remaja. Dengan menyajikan pesan dalam waktu yang rutin, seperti saat mengizinkan bendera berangin, informasi tentang pencegahan kekerasan menjadi lebih mudah ditangkap.

Edukasi digital yang efektif juga perlu diselenggarakan. Siswa harus diajarkan untuk menggunakan teknologi dengan bijak, terutama di era di mana konflik bisa muncul lewat media sosial. Pendekatan ini dirancang untuk mencegah kecelakaan virtual yang bisa berujung menjadi tindak pidana.

Relasi keluarga yang transparan menjadi kunci. Banyak kasus kekerasan tidak terdeteksi karena komunikasi antara orang tua dan anak masih terbatas. Epi menegaskan bahwa percaya diri berbicara harus dimulai dari rumah. Orang tua wajib menjadi pembicara yang bisa mendukung anak dalam menghadapi konflik.

Hasil upaya ini bisa menjadi contoh untuk kota lain. Dengan mengubah ritual rutin menjadi medium edukasi, masyarakat dapat meningkatkan kesadaran secara mandiri. Pendekatan ini juga mengurangi kebutuhan seminar yang terbatas, sehingga pencegahan bisa dilaksanakan secara lebih luas.

Pemuda dan anak harus dipantau bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara digital. Epi meminta semua pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang aman. Pendekatan ini bukan hanya untuk melindungi, tetapi juga untuk menciptkan generasi yang lebih bijak dan bertanggung jawab.

Paradigma pencegahan kekerasan harus berkembang. Di era digital, solusi juga harus inovatif. Upacara bendera menegaskan bahwa masalah kekerasan tidak boleh diabaikan. Dengan melibatkan lebih banyak pihak dalam proses ini, risiko kekerasan bisa diminimalkan.

Uniknya pendekatan ini terletak pada integrasi edukasi ke dalam aktivitas harian. Dengan menjadikan upacara bendera sebagai media pemberitaan, pesan pencegahan bukan hanya didengar, tetapi juga dirasakan. Ini membuka ruang untuk diskusi yang lebih mendalam di antara orang tua, guru, dan remaja.

Setiap upacara bendera menjadi peluang untuk mengingatkan bahwa kekerasan tidak boleh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, masyarakat bisa lebih siap menghadapi tantangan kekerasan yang terus berubah.

Kemudian, kolaborasi antara lembaga pemerintah dan masyarakat menjadi wajib. Semua pihak harus berpartisipasi dalam menciptakan sistem pengawasan yang lebih rinci. Pendidikan bukan hanya tentang ilmu, tapi juga tentang nilai-nilai yang dimiliki. Dengan pendekatan ini, Tasikmalaya menjadi contoh yang bisa dilihat oleh kota lain.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan