Mahasiswi Ngaku Dihamili oleh Guru di Tasikmalaya, KPAID Lakukan Penelusuran

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Platform media sosial memperoleh pengakuan seorang mahasiswi yang mengaku kehamilan oleh kepala sekolah di Kecamatan Cikalong, Tasikmalaya. Lapangan pedoman viral setelah pesan pribadi yang dimaklumkan olehnya beredar luas di berbagai jaringan digital.

Dengan unggahan yang semakin memimpakan, perempuan tersebut menyampaikan kondisi psikologisnya yang terpukul. Ia mengakui mengalami tekanan mental berat setelah menyadari dirinya hamil. “Om bantu aku buat cari solusi, ini bukan kesalahan aku aja, tapi juga om,” kata ia dalam pernyataan yang penuh kesadaran.

Pengakuan ini mencakup informasi bahwa pria yang diduga sebagai penampang adalah kepala sekolah di lembaga pendidikan di wilayah tersebut. Ia berusaha meminta tanggung jawab melalui berbagai pesan, termasuk via Instagram direct message. Namun, WhatsApp dan TikToknya telah diblokir, sehingga tidak mendapatkan respons yang diharapkan.

Kondisi ini membuatnya merasa terpisah dalam menghadapi masalah. “Kenapa ngeblok wa dan Tiktok?” tanya ia dalam penjelasan yang menyentuh hati.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Tasikmalaya, Ato Rinanto, menyatakan pihaknya sedang memeriksa informasi yang beredar. KPAID perlu memastikan status mahasiswi tersebut—apakah masih pelajar atau sudah menjadi mahasiswa. Hal ini penting untuk menentukan langkah pengawasan.

“Kami sedang dalami pengakuan di media sosial. Jika ternyata masih di bawah umur, KPAID akan menangani langsung,” ujar Ato.

Saat ini identitas mahasiswi belum dipastikan. KPAID berupaya menemukan korban untuk memberikan bantuan yang diperlukan.


Data riset terbaru menunjukkan bahwa kasus kehamilan di media sosial sering memicu reaksi sosial yang komplikasi. Studi menunjukkan bahwa informasi sensitif seperti ini bisa memengaruhi psikologi korban serta memicu perdebatan publik.

Studi kasus ini mengilustrasikan dampak media sosial dalam menyebarkan isu pribadi. Perlu diperhatikan agar platform digital tetap menjadi ruang untuk dialog konstruktif, bukan hanya pengakuan yang viral.

Infografis: “Kehamilan di Media Sosial: Angka dan Dampaknya” bisa disimpan sebagai referensi untuk memahami tren ini.

Setiap situasi seperti ini membutuhkan kesadaran dan aksi cepat. Jangan tunggu berlebihan, aksi sekarang untuk melindungi anak-anak dari ancaman yang tak diingat.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan